ITB dan The Asia Foundation Luncurkan Cyber Clinic: Kolaborasi Strategis Perkuat Ketangguhan Keamanan Siber UMKM di Era Digital
Bandung, stei.itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung melalui Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) secara resmi meluncurkan program Cyber Clinic bekerja sama dengan The Asia Foundation dalam rangkaian acara LaunchFest Cyber Clinic ITB yang digelar di Aula Barat Kampus ITB Ganesha, Bandung, Senin (25/5/2026). Program strategis ini didukung oleh inisiatif global APAC Cybersecurity Fund dari Google.org dan dirancang khusus untuk memperkuat kapasitas serta postur keamanan siber bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di kawasan Bandung dan sekitarnya.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi keamanan digital UMKM yang memprihatinkan. UMKM saat ini menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan 87 persen di antaranya telah memanfaatkan internet dalam operasional bisnis sehari-hari. Namun, pesatnya adopsi teknologi tersebut tidak sejalan dengan kesiapan perlindungan digital.
Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, menyoroti besarnya potensi yang sekaligus menjadi kerentanan. Nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi akan mencapai 200 hingga 360 miliar dolar AS pada tahun 2030, menjadikan keamanan siber bukan sekadar isu teknis melainkan fondasi pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Data dari berbagai lembaga mempertegas urgensi ini. Secara global, 43 persen dari total serangan siber kini menargetkan usaha berskala kecil. Deputi Direktur Departemen Pelindungan Konsumen OJK, Dahnial Apriyadi, mengungkapkan bahwa skor keamanan siber Indonesia berada di angka 6,53 dari skala 10, menempatkan Indonesia di posisi 111 dari 112 negara yang diteliti, hanya satu peringkat di atas negara paling rentan. Sementara itu, riset BSSN menunjukkan bahwa dari 1.004 sampel UMKM yang disurvei, sebanyak 64,1 persen berada dalam kategori keamanan digital yang kurang dan buruk, sebagaimana disampaikan oleh Rio Yunia Pratama dari Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata BSSN.
Melalui program Cyber Clinic, ITB mengintegrasikan keunggulan riset dan pengembangan akademik untuk menjawab tantangan konkret di lapangan. Program ini menargetkan pelatihan bagi 100 mahasiswa pilihan ITB agar memiliki keterampilan teknis keamanan siber sekaligus kemampuan sosial yang mumpuni. Setelah terlatih, para mahasiswa tersebut akan diterjunkan langsung untuk memberikan layanan pendampingan secara cuma-cuma kepada sekitar 200 UMKM digital.
Layanan yang diberikan mencakup audit keamanan dasar atau penilaian risiko (risk assessment), pelatihan kesadaran siber dengan modul yang dikontekstualisasikan sesuai kebutuhan UMKM, serta bantuan teknis pengamanan infrastruktur dan perangkat digital bisnis.
Ketua Program Cyber Clinic ITB, Dr. techn. Muhammad Zuhri Catur Candra, S.T., M.T., menegaskan visi besar di balik program ini.
“Misi utama kami adalah mengubah kerangka pemikiran yang telah kami sampaikan menjadi peluang bersama untuk membangun komunitas yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan, sekaligus memastikan bahwa keamanan digital dapat dinikmati oleh semua pihak. Oleh karena itu, kerja sama antara ITB dan The Asia Foundation tidak hanya memiliki dampak lokal, tetapi juga cakupan regional bahkan global,” ungkapnya.
Dalam seremoni peluncuran ini juga ditandai beroperasinya Cybersecurity Hub di lingkungan ITB, yang tersebar di dua lokasi: Gedung Cyber Security Research and Development Center di Kampus Jatinangor, serta fasilitas konsultasi di Labtek VIII Kampus Ganesha. Keduanya dirancang sebagai pusat kolaborasi lintas sektor antara akademisi, industri, dan komunitas.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan hadir langsung dalam acara peluncuran dan menyambut program ini dengan antusias. Ia menekankan bahwa pemerintah kota selama ini kerap mengabaikan dua aspek krusial dalam tata kelola digitalisasi: risiko dan dampak. Keduanya, menurutnya, justru merupakan elemen terpenting sekaligus yang paling sulit diukur secara kuantitatif.
“Event ini akan bisa memberikan masukan untuk Pemerintah Kota Bandung dalam rangka menggunakan berbagai macam teknologi digital dan juga metode yang bisa menghitung dampak dan risiko. Risiko dan dampak memang salah satu hal dalam manajemen yang pengukuran kuantitatifnya termasuk yang paling rumit. Makanya dibutuhkan orang ITB untuk menghitung itu.”
Farhan juga mengungkapkan bahwa pengaduan terkait penipuan digital yang diterima Pemerintah Kota Bandung sejauh ini lebih banyak bersifat personal, bukan dari entitas usaha. Belum ditemukan aduan terkait digital fraud yang korbannya adalah pelaku koperasi maupun UMKM secara kelembagaan. Justru kondisi ini dipandang sebagai momentum terbaik untuk bertindak.
“Mumpung belum terjadi dan di sinilah kita akan menghitung risikonya,” tegasnya.
Country Representative The Asia Foundation Indonesia, Hana A. Satriyo, menyatakan bahwa kehadiran Cyber Security Clinic merupakan langkah yang sudah lama dinantikan. Menurutnya, UMKM memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan entitas bisnis besar dalam menghadapi serangan siber yang terjadi setiap harinya. Akar masalahnya terletak pada dua hal: minimnya pengetahuan dan terbatasnya keterampilan para pelaku UMKM dalam memahami serta mengantisipasi ancaman digital.
“Perlu ada kebijakan yang lebih baik, tapi kita juga melihat perlunya pemberdayaan melalui klinik yang lebih terkelola. Bekerja sama dengan universitas seperti ITB bisa lebih berkelanjutan. Kalau sampai uang yang kecil itu kemudian bocor sana-sini gara-gara keamanan digital yang tidak baik, ya kesengsaraannya makin lagi. Ini sudah darurat untuk kita sama-sama mendorong keamanan digital yang lebih baik untuk UMKM.”
Ketika ditanya soal jangkauan program, Hana menegaskan bahwa batas geografis tidak relevan dalam konteks keamanan digital. ITB, dengan rekam jejaknya yang telah melampaui batas regional, dipandang memiliki daya ungkit nasional, khususnya untuk Indonesia bagian barat. Untuk memperkuat jangkauan ke timur, The Asia Foundation juga menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Kami juga bekerja sama di negara-negara lain untuk masalah keamanan siber bagi UMKM. Karena UMKM ini penting sekali hingga menyokong kehidupan ekonomi ratusan juta rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Cyber Clinic ITB tidak berdiri sendiri. Program ini akan terintegrasi dalam Konsorsium Klinik Keamanan Siber tingkat Asia Pasifik (APAC Cybersecurity Clinics Consortium), menjadikannya bagian dari gerakan regional yang lebih luas. Kolaborasi multi-sektor ini melibatkan akademisi, industri teknologi, lembaga regulasi dan pemerintah daerah dan diharapkan mampu mencetak talenta-talenta unggul di bidang keamanan siber sekaligus memastikan manfaat ekonomi digital dapat dinikmati secara aman oleh seluruh lapisan pelaku usaha.
Dengan peluncuran program ini, ITB menegaskan kembali perannya sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam riset dan pendidikan, tetapi juga hadir secara nyata dalam menjawab tantangan masyarakat, mulai dari usaha kecil di Bandung hingga ekosistem digital UMKM di seluruh nusantara.