Enter your keyword

PulihGo Antar Mahasiswa STEI ITB Raih Juara 1 Health Track Garuda Hacks 7.0

PulihGo Antar Mahasiswa STEI ITB Raih Juara 1 Health Track Garuda Hacks 7.0

PulihGo Antar Mahasiswa STEI ITB Raih Juara 1 Health Track Garuda Hacks 7.0

Bandung, stei.itb.ac.id – Tim mahasiswa Program Studi Informatika STEI ITB meraih Juara 1 kategori Health Track dalam ajang Garuda Hacks 7.0 melalui inovasi PulihGo, aplikasi rehabilitasi stroke di rumah yang memanfaatkan sensor giroskop pada ponsel. Kompetisi tersebut berlangsung pada 16–18 Juli 2026 di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Banten.

Tim PulihGo terdiri atas empat mahasiswa Informatika angkatan 2025, yaitu Raditya Wibian Sastaka sebagai tech lead dan peneliti, Rafi Pradipta Andira Sulistyo pada bidang tech matrix, Sulthan Dhiyazka Suwandi sebagai perancang antarmuka dan pengembang front-end, serta Muhammad Adnan Kurniawan yang bertanggung jawab atas penyusunan pitch deck.

PulihGo dikembangkan sebagai aplikasi pendukung rehabilitasi bagi penyintas stroke yang menjalani latihan secara mandiri di rumah. Dalam penggunaannya, pasien mengikatkan ponsel pada bagian lengan bawah. Sensor giroskop pada perangkat kemudian mengukur sudut dan rentang gerak atau range of motion, menghitung jumlah repetisi, serta mencatat kualitas gerakan selama latihan.

Data latihan tersebut tersinkronisasi dengan dasbor yang dapat diakses oleh terapis. Melalui dasbor itu, terapis dapat menetapkan target latihan, memantau perkembangan pasien, dan meninjau hasil rehabilitasi dari jarak jauh.

Gagasan PulihGo berawal dari perhatian tim terhadap tantangan yang dihadapi penyintas stroke dalam memperoleh kembali kemandirian. Berdasarkan kajian yang digunakan tim, banyak pasien mengalami kelemahan pada salah satu sisi tubuh sehingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengenakan pakaian, makan atau memutar gagang pintu.

Pemulihan kemampuan motorik membutuhkan latihan berulang dan konsisten, khususnya pada masa awal setelah stroke. Namun, latihan mandiri di rumah sering kali terkendala oleh minimnya pendampingan, kurangnya umpan balik, serta aktivitas latihan yang terasa monoton.

Kondisi tersebut semakin menantang karena jumlah fisioterapis di Indonesia dinilai belum sebanding dengan kebutuhan pasien. Berdasarkan data yang dihimpun tim, rasio fisioterapis di Indonesia berada pada kisaran satu fisioterapis untuk 35.000 penduduk. Keterbatasan itu menyebabkan sebagian proses pemulihan harus berlangsung di rumah tanpa pemantauan langsung secara rutin.

Tim kemudian melihat peluang untuk memanfaatkan perangkat yang telah dimiliki banyak orang, yaitu ponsel, sebagai alat latihan sekaligus pemantau perkembangan rehabilitasi.

Gerakan dalam latihan rehabilitasi umumnya melibatkan rotasi anggota tubuh. Karena itu, sensor giroskop pada ponsel dinilai dapat digunakan untuk mengukur perubahan sudut gerakan secara objektif tanpa membutuhkan perangkat tambahan.

Selain membantu terapis memperoleh data latihan, PulihGo juga memungkinkan pasien melihat perkembangan yang telah dicapai. Progres yang terlihat diharapkan dapat meningkatkan motivasi pasien untuk menjalankan latihan secara konsisten.

Dalam proses pengembangannya, tim menegaskan bahwa PulihGo tidak dirancang untuk menggantikan peran fisioterapis. Aplikasi tersebut ditempatkan sebagai alat bantu agar seorang terapis dapat memantau lebih banyak pasien, terutama ketika latihan dilakukan secara mandiri di rumah.

Terapis tetap memiliki kewenangan untuk menetapkan target dan mengevaluasi perkembangan pasien. Sementara itu, aplikasi berfungsi sebagai “mata” yang mencatat aktivitas pasien pada hari-hari ketika latihan tidak dapat didampingi secara langsung.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian sejak tahap awal perancangan. Tim menyadari bahwa latihan yang tidak sesuai dengan kondisi pasien berpotensi menimbulkan rasa sakit atau memperburuk kondisi tertentu.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, PulihGo dilengkapi dengan batas rentang gerak yang aman, tombol berhenti ketika pasien merasakan nyeri, serta sistem penilaian yang lebih menghargai gerakan terkontrol dibandingkan gerakan yang hanya berorientasi pada jarak terjauh atau jumlah repetisi terbanyak.

Dalam waktu pengembangan yang terbatas, tim memilih untuk menguji bagian tersulit terlebih dahulu, yaitu memastikan sensor giroskop dapat membaca sudut rotasi lengan secara stabil dan terkalibrasi pada perangkat nyata.

Pengukuran sudut, pendeteksian repetisi, rentang gerak, dan kehalusan gerakan diproses langsung melalui ponsel. Tim kemudian menghubungkan aplikasi pasien dengan dasbor terapis melalui basis data yang sama.

Integrasi tersebut memungkinkan target yang ditetapkan terapis langsung diterima oleh aplikasi pasien. Sebaliknya, hasil latihan yang dilakukan pasien dapat dikirimkan kembali untuk ditinjau oleh terapis.

PulihGo juga dikembangkan dengan pendekatan offline-first. Dengan pendekatan ini, pasien tetap dapat menjalankan latihan ketika koneksi internet terputus. Data dapat disinkronkan kembali setelah perangkat memperoleh jaringan.

Menurut tim, salah satu tantangan utama selama kompetisi adalah menyatukan aplikasi pasien dan dasbor terapis menjadi satu alur layanan yang utuh. Di tengah waktu pengerjaan yang terbatas, mereka memilih berfokus pada satu jenis gerakan yang dapat diukur dan didemonstrasikan secara akurat.

Keputusan untuk membatasi cakupan tersebut justru menjadi salah satu kekuatan PulihGo di hadapan juri. Alih-alih menawarkan banyak fitur yang belum sepenuhnya berfungsi, tim memilih menyempurnakan solusi inti yang dapat diuji secara langsung.

Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan mahasiswa STEI ITB dalam memadukan pemahaman terhadap persoalan kesehatan, pengembangan teknologi, serta perancangan solusi yang berorientasi pada kebutuhan pengguna. Melalui PulihGo, tim tidak hanya menghadirkan inovasi berbasis sensor ponsel, tetapi juga menawarkan pendekatan untuk mendukung rehabilitasi stroke yang lebih terukur, aman, dan terhubung dengan tenaga profesional.