Mahasiswa STEI ITB Gagas Sistem Sanitasi Kandang Berbasis Biogas dan Carbon Counting pada WISEC 2026
Bandung, stei.itb.ac.id – Mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghadirkan gagasan inovatif untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Melalui karya yang diikutsertakan dalam World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026, tim mahasiswa STEI ITB mengangkat inovasi sistem sanitasi kandang bertenaga biogas yang terintegrasi dengan sistem carbon counting dan monitoring.
Tim tersebut terdiri dari Danandaya Raditya Rozano P. (EP’24), Christopher Clement Carl (EP’24), dan Timothy Yves Halim (EL’24). Ketiganya mengembangkan gagasan yang berangkat dari persoalan sanitasi pada sektor peternakan, terutama dalam konteks wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat memberikan dampak besar bagi para peternak sapi di Indonesia.
Melalui karya ini, tim merancang sistem sanitasi kandang yang memanfaatkan biogas dari kotoran sapi sebagai sumber energi. Energi tersebut kemudian digunakan untuk mendukung operasional sistem sanitasi agar kebersihan kandang dapat terjaga secara lebih berkelanjutan.
Salah satu aspek utama dari inovasi ini adalah rancangan sistem biogas tiga fasa yang ditujukan untuk menjaga stabilitas suplai energi. Selain itu, tim juga mengembangkan konsep carbon counting agar potensi penurunan emisi gas rumah kaca dari sistem tersebut dapat dipantau dan diukur secara lebih jelas.
Menurut tim, isu peternakan menjadi penting untuk diangkat karena sektor ini memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat, tetapi di sisi lain juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan inovatif yang tidak hanya menjawab kebutuhan operasional peternakan, tetapi juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.
“Peternakan merupakan salah satu sektor penting dalam kehidupan manusia. Namun, sektor ini juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang perlu dikelola dengan solusi yang inovatif agar tetap berkelanjutan,” ujar perwakilan tim.
Dalam proses pengembangan karya, tim melalui tahapan brainstorming, riset, penyusunan esai, hingga perancangan poster. Proses tersebut dilakukan di tengah padatnya kegiatan akademik, mulai dari ujian, praktikum, hingga tanggung jawab perkuliahan lainnya. Dukungan dosen pembimbing, Bryan Denov, serta kolaborasi dengan rekan-rekan yang membantu dalam aspek teknis dan penyusunan karya turut berperan dalam keberhasilan tim.
Momen presentasi di hadapan dewan juri menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi tim. Melalui kesempatan tersebut, gagasan yang telah mereka kembangkan dapat disampaikan secara langsung dan memperoleh perhatian dari para penilai.
“Kami merasa mendapatkan panggung agar inovasi ini benar-benar dapat didengar dan dilirik. Itu menjadi salah satu momen yang sangat berkesan selama mengikuti kompetisi,” ungkap tim.

Tim melihat bahwa inovasi ini memiliki peluang untuk diterapkan pada peternakan yang sesuai melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat. Apabila dikembangkan lebih lanjut, sistem tersebut berpotensi membantu peternak mengurangi biaya operasional listrik konvensional, menjaga kebersihan kandang, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengurangan emisi karbon.
Selain menghadirkan solusi teknis, sistem monitoring carbon credits yang dirancang juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan kebersihan peternakan, tetapi juga pada peningkatan literasi lingkungan.
Keberhasilan tim dalam ajang WISEC 2026 turut menjadi bagian dari kontribusi Institut Teknologi Bandung dalam meraih predikat Grand Champion pada SINEC & WISEC 2026. Capaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa STEI ITB mampu menghadirkan gagasan yang relevan, aplikatif, dan sejalan dengan semangat inovasi berkelanjutan.
Melalui karya tersebut, mahasiswa STEI ITB membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat lahir dari kepedulian terhadap persoalan nyata di masyarakat. Dengan pendekatan multidisiplin, karya ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju penerapan sistem peternakan yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.