DetectMe Ultralight, Inovasi Kolaboratif untuk Memperkuat Pemantauan Kesehatan Ibu Hamil dan Janin
Bandung, stei.itb.ac.id – Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) mengambil peran penting dalam pengembangan DetectMe, inovasi teknologi kesehatan digital yang dirancang untuk mendukung pemantauan kondisi ibu hamil dan janin secara lebih mudah, terhubung, dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui ULTRALIGHT Project, sebuah riset kolaboratif Indonesia–Australia yang mempertemukan kepakaran di bidang teknik, teknologi digital, kesehatan, implementasi layanan dan pengembangan produk. Hasil pengembangan proyek dipaparkan dalam kegiatan Diseminasi Akhir ULTRALIGHT Project yang diselenggarakan pada Selasa, 7 Juli 2026, di UTC Hotel, Bandung.
DetectMe merupakan sistem pemantauan kesehatan ibu hamil dan janin yang mengintegrasikan perangkat sensor portabel, aplikasi pada telepon pintar, layanan berbasis komputasi awan, serta dasbor digital yang dapat digunakan untuk mendukung pemantauan oleh tenaga kesehatan.
Dr. Hasballah Zakaria, S.T., M.Sc., dosen Kelompok Keahlian Teknik Biomedika STEI ITB yang tergabung dalam tim peneliti, menjelaskan bahwa perangkat tersebut dikembangkan untuk membantu menghadirkan pemantauan kesehatan kehamilan yang lebih dekat dengan pengguna.
“ULTRALIGHT Project mengembangkan sebuah sistem untuk memonitor kesehatan ibu hamil. Di dalamnya terdapat sensor EKG, sensor PPG, dan sensor suhu. Setelah digunakan oleh ibu hamil, perangkat dinyalakan dan dihubungkan dengan smartphone,” ujar Hasballah.
Melalui sistem yang terintegrasi, data dari perangkat dapat diteruskan melalui aplikasi menuju layanan komputasi awan dan dasbor pemantauan. Dengan pendekatan tersebut, informasi kesehatan dapat diakses oleh tenaga kesehatan untuk mendukung pemantauan kondisi ibu dan janin secara berkelanjutan.
Pengembangan DetectMe tidak hanya berfokus pada pembuatan sebuah perangkat, tetapi juga membangun ekosistem pemantauan yang menghubungkan ibu hamil dengan bidan, puskesmas, serta layanan kesehatan. Sistem ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap pemantauan kehamilan dan mendukung identifikasi lebih awal apabila ditemukan indikasi kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Dalam kolaborasi tersebut, ITB berperan dalam pengembangan perangkat serta algoritma perhitungan yang menjadi bagian penting dari sistem DetectMe. Kontribusi bidang teknik dan komputasi tersebut dikembangkan untuk menghasilkan perangkat yang mampu mengolah data sensor serta terhubung dengan sistem digital secara terintegrasi.
“ITB mengembangkan perangkat dan algoritma perhitungannya. Unpad berperan dalam membawa dan mengimplementasikan sistem ini kepada ibu hamil, sedangkan Telkom University mengembangkan aplikasi pada smartphone yang menghubungkan perangkat dengan cloud,” jelas Hasballah.
Pengembangan produk juga melibatkan PT Xirka Dama Persada sebagai mitra industri. Sementara itu, kolaborasi dengan institusi kesehatan mendukung agar pengembangan sistem tetap memperhatikan kebutuhan pelayanan serta standar pemantauan kesehatan ibu hamil.
Kolaborasi tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari program KONEKSI, yang mendorong kemitraan pengetahuan dan inovasi antara Indonesia dan Australia. Pengembangan ULTRALIGHT Project berlangsung sejak 2024 dan memasuki tahap akhir pada 2026.
Selain mendukung pengembangan teknologi, keterlibatan University of Newcastle turut membuka ruang kajian mengenai peluang penerapan DetectMe dalam konteks masyarakat Australia. Tim juga melakukan diskusi dengan komunitas di Australia untuk memperoleh perspektif mengenai kebutuhan dan kemungkinan pemanfaatan teknologi serupa di negara tersebut.
Menurut Hasballah, kolaborasi lintas negara menjadi peluang untuk mengembangkan DetectMe agar manfaatnya tidak terbatas pada satu wilayah.
“Mudah-mudahan produk ini bukan hanya berguna untuk Indonesia, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat di berbagai negara,” tuturnya.
Kegiatan diseminasi akhir menjadi ruang untuk menyampaikan capaian pengembangan sekaligus memperoleh masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian PPN/Bappenas, serta sejumlah mitra dari bidang kesehatan, pendidikan, riset, dan industri.

Dalam kegiatan tersebut, tim memaparkan hasil penelitian, mendemonstrasikan penggunaan DetectMe, serta membahas berbagai langkah yang diperlukan agar inovasi tersebut dapat melanjutkan proses pengembangan dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.
Masukan dari Kementerian Kesehatan antara lain berkaitan dengan tahapan serta persyaratan yang perlu dipenuhi dalam proses pengurusan izin edar. Pembahasan juga mencakup kesiapan pengembangan sistem agar dapat mendukung ekosistem layanan kesehatan digital nasional.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyampaikan informasi mengenai peluang pendanaan lanjutan yang dapat mendukung proses hilirisasi, termasuk kebutuhan validasi dan uji klinis, penyempurnaan produk, serta pengembangan perangkat agar semakin portabel dan mudah digunakan.
Dari sisi perencanaan pembangunan, diskusi bersama Kementerian PPN/Bappenas membuka perspektif mengenai peluang pengembangan DetectMe sebagai bagian dari upaya memperkuat pemantauan kesehatan ibu hamil di Indonesia. Berbagai masukan tersebut menjadi landasan penting bagi tim untuk mempersiapkan tahapan pengembangan setelah proyek penelitian berakhir.
“Semua pihak memberikan masukan agar produk ini ke depan dapat sampai dan digunakan oleh masyarakat,” kata Hasballah.
Memasuki tahap akhir proyek, pengembangan DetectMe diarahkan pada penyempurnaan teknologi, peningkatan kemudahan penggunaan, validasi lebih lanjut, pemenuhan aspek regulasi, serta penguatan peluang hilirisasi. Langkah tersebut diperlukan agar hasil riset tidak berhenti sebagai purwarupa, tetapi dapat terus berkembang menuju solusi kesehatan digital yang dapat diterapkan secara lebih luas.
Kekuatan DetectMe terletak pada integrasi antara perangkat portabel, teknologi sensor, aplikasi seluler, pengolahan data, dan sistem pemantauan tenaga kesehatan. Pendekatan tersebut membuka peluang bagi pemantauan kesehatan ibu dan janin yang lebih terhubung, khususnya bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan secara rutin.
Keterlibatan STEI ITB dalam pengembangan DetectMe menjadi wujud kontribusi keilmuan teknik biomedika, instrumentasi kesehatan, pengolahan sinyal, dan teknologi digital dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi, inovasi teknologi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan perangkat yang berfungsi, tetapi juga solusi yang relevan, mudah digunakan, dan berpotensi memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan layanan kesehatan ibu dan janin.