Enter your keyword

Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., I.P.U. Soroti Rekayasa Kinerja Jaringan sebagai Penopang Peradaban Digital

Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., I.P.U. Soroti Rekayasa Kinerja Jaringan sebagai Penopang Peradaban Digital

Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., I.P.U. Soroti Rekayasa Kinerja Jaringan sebagai Penopang Peradaban Digital

Bandung, stei.itb.ac.id — Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB ITB) menyelenggarakan Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Aula Barat ITB, Kampus Ganesha. Kegiatan tersebut menghadirkan empat Guru Besar dari berbagai fakultas dan sekolah di lingkungan ITB.

Keempat Guru Besar yang menyampaikan orasi ilmiah adalah Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., I.P.U. dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Prof. Deddy Priatmodjo Koesrindartoto, Ph.D. dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM), Prof. Dr. apt. Lucy Dewi Nurhajati Sasongko, M.Si. dari Sekolah Farmasi (SF), serta Prof. Dr. Eng. Ir. Asep Saepuloh, S.T., M.Eng. dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB).

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tutun menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Orkestrasi Senyap Penopang Peradaban Digital.” Orasi tersebut mengangkat peran penting jaringan telekomunikasi sebagai fondasi yang memungkinkan berbagai layanan dan aktivitas digital terus berjalan. Di balik layanan digital, transaksi daring, sistem industri, dan komunikasi yang berlangsung tanpa hambatan, terdapat infrastruktur jaringan yang bekerja secara berkelanjutan meskipun keberadaannya sering tidak disadari.

Prof. Tutun menjelaskan bahwa perkembangan telekomunikasi telah melampaui fungsi awalnya sebagai sarana komunikasi. Internet, jaringan seluler, teknologi 5G, komputasi awan, edge computing, dan kecerdasan artifisial kini saling terhubung dalam satu ekosistem yang ditopang oleh jaringan telekomunikasi. Keberadaan jaringan tersebut turut menentukan daya saing ekonomi, kualitas layanan publik, perkembangan industri, akses pendidikan, serta keberlangsungan berbagai aktivitas masyarakat.

Namun, konektivitas saja tidak cukup. Jaringan perlu memiliki kinerja yang stabil, andal, dan mampu beradaptasi terhadap peningkatan lalu lintas data serta perubahan kebutuhan pengguna. Melalui rekayasa kinerja jaringan, kualitas layanan, beban lalu lintas, dan penggunaan sumber daya dapat terus dianalisis, direncanakan, serta dioptimalkan agar layanan digital tetap berjalan secara efisien.

Seiring meningkatnya kompleksitas jaringan, pengelolaan sistem juga bergerak dari pendekatan reaktif menuju pendekatan yang lebih adaptif dan prediktif. Pemanfaatan kecerdasan artifisial dapat mendukung proses deteksi anomali, prediksi gangguan, serta optimalisasi sumber daya. Meskipun demikian, kecerdasan artifisial tetap berperan sebagai instrumen yang memperkuat landasan ilmiah dan kemampuan rekayasa jaringan.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis dan kebutuhan digital yang beragam, kualitas jaringan memiliki peran strategis dalam mendukung pemerataan akses, pertumbuhan ekonomi digital, transformasi industri, serta penyediaan layanan publik yang inklusif. Melalui orasi tersebut, Prof. Tutun menegaskan bahwa menjaga kinerja jaringan tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian digital bangsa.

Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar ini menjadi ruang diseminasi gagasan dan kontribusi keilmuan para Guru Besar ITB dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi lintas bidang, ITB terus memperkuat perannya dalam mendukung kemajuan bangsa serta pembangunan yang berkelanjutan.