Enter your keyword

Inovasi SafeTrip Antar Mahasiswa STEI ITB Raih Juara Kategori “Safety Track” Garuda Hacks 7.0

Inovasi SafeTrip Antar Mahasiswa STEI ITB Raih Juara Kategori “Safety Track” Garuda Hacks 7.0

Inovasi SafeTrip Antar Mahasiswa STEI ITB Raih Juara Kategori “Safety Track” Garuda Hacks 7.0

Bandung, stei.itb.ac.id – Tim mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) berhasil meraih juara pada kategori Safety Track dalam ajang Garuda Hacks 7.0. Kompetisi hackathon tersebut berlangsung pada 16–18 Juli 2026 di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Banten.

Prestasi tersebut diraih melalui inovasi bernama SafeTrip (Safety for Transit Response and Investigation), sebuah solusi berbasis teknologi yang dirancang untuk membantu operator transportasi umum mendeteksi risiko keselamatan serta menelusuri bukti insiden secara lebih cepat dalam proses investigasi.

Tim SafeTrip terdiri atas Abel Gani yang bertanggung jawab pada pengembangan produk, Athilla Zaidan Zidna Fann sebagai AI engineer, Jason Edward Salim sebagai full stack engineer, serta Tiffany Viriya C. yang menangani aspek keuangan dan bisnis.

SafeTrip dikembangkan sebagai respons terhadap permasalahan keamanan yang masih kerap terjadi di lingkungan transportasi umum, khususnya tindak pelecehan dan pencurian. Berbagai insiden tersebut dinilai dapat mengganggu rasa aman masyarakat saat menggunakan layanan transportasi publik.

Tim melihat bahwa penanganan insiden keselamatan di transportasi umum masih menghadapi sejumlah kendala. Proses operasional dalam menangani laporan dinilai memiliki hambatan yang dapat memperlambat respons, sementara pelaporan insiden umumnya sangat bergantung pada ingatan dan keterangan personal korban atau saksi mengenai ciri-ciri pelaku.

“Kami memilih SafeTrip karena fenomena tindak pelecehan dan pencurian di lingkungan transportasi umum telah mengganggu ruang aman masyarakat,” ungkap Athilla.

Untuk menjawab persoalan tersebut, SafeTrip menggunakan dua pendekatan utama. Pertama, membantu mengatasi hambatan dalam alur operasional penanganan insiden. Kedua, mendukung proses pelaporan dan investigasi berdasarkan informasi mengenai kejadian serta ciri-ciri eksplisit pelaku.

Melalui pendekatan tersebut, SafeTrip diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi risiko, respons terhadap laporan, dan penelusuran bukti ketika sebuah insiden terjadi. Dalam jangka panjang, solusi ini diharapkan dapat diterapkan pada berbagai moda dan ekosistem transportasi umum di Indonesia.

“Harapannya, pendekatan ini dapat diimplementasikan di seluruh ekosistem transportasi umum di Indonesia untuk meningkatkan rasa aman masyarakat ketika menggunakan transportasi publik,” lanjut Athilla.

Pengembangan SafeTrip dilakukan dalam waktu sekitar 30 jam selama rangkaian hackathon. Pada beberapa jam pertama kompetisi, anggota tim melakukan proses curah gagasan untuk menentukan permasalahan yang akan diangkat dan solusi yang akan dikembangkan.

Perbedaan ide sempat muncul dalam proses tersebut. Namun, tim akhirnya sepakat memilih isu keselamatan transportasi umum dan mengembangkan SafeTrip untuk kategori Safety Track karena permasalahan yang diangkat dinilai relevan serta belum sepenuhnya terselesaikan.

Setelah menentukan gagasan utama, setiap anggota menjalankan tanggung jawab sesuai dengan bidang keahliannya. Pembagian peran yang jelas membantu tim menyelesaikan pengembangan produk, penerapan teknologi kecerdasan artifisial, pembangunan sistem, serta penyusunan aspek bisnis dan keuangan secara bersamaan.

“Dengan total waktu 30 jam, kami berhasil mengisi ruang lingkup tugas satu sama lain dan mengerjakan seluruh keluaran yang dibutuhkan dengan baik,” ujar Athilla.

Pengalaman mengikuti sejumlah kompetisi hackathon sebelumnya turut membantu tim dalam menyusun prioritas dan mengelola waktu. Berbagai kendala teknis yang muncul selama proses pengembangan dapat diselesaikan melalui koordinasi serta pembagian pekerjaan yang terarah.

Menurut tim, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kemampuan menentukan fitur yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Dalam kompetisi dengan waktu terbatas, pengelolaan ruang lingkup produk menjadi salah satu faktor penting agar solusi dapat dikembangkan dan dipresentasikan secara optimal.

Meskipun telah mempersiapkan dan mengembangkan SafeTrip secara serius, tim mengaku tidak memasang ekspektasi berlebihan untuk menjadi juara. Mereka berupaya menikmati setiap tahapan kompetisi dan menjadikan hackathon sebagai kesempatan untuk belajar serta menguji kemampuan.

Saat SafeTrip diumumkan sebagai pemenang, rasa terkejut menjadi respons pertama para anggota tim. Capaian tersebut kemudian dimaknai sebagai hasil dari proses panjang yang telah mereka jalani, termasuk pengalaman serta pembelajaran dari berbagai kompetisi sebelumnya.

“Ketika dinyatakan sebagai juara nasional, tentu rasa heran dan terkejut yang pertama muncul. Meski begitu, kami merasa juara ini menjadi buah dari kerja keras panjang yang telah kami lewati melalui lomba-lomba sebelumnya,” tutur Athilla.

Keberhasilan SafeTrip dalam Garuda Hacks 7.0 menunjukkan potensi mahasiswa STEI ITB dalam mengembangkan teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat. Melalui kolaborasi lintas keahlian, teknologi dapat diarahkan menjadi solusi yang mendukung terciptanya sistem transportasi umum yang lebih aman, responsif, dan dapat dipercaya.