Enter your keyword

Teleproctoring Memperpendek Jarak, Menyelamatkan Waktu

Teleproctoring Memperpendek Jarak, Menyelamatkan Waktu

Teleproctoring Memperpendek Jarak, Menyelamatkan Waktu

Bandung, stei.itb.ac.id Dalam penanganan stroke, dikenal istilah Door to Puncture (DTP) Time, yaitu rentang waktu sejak pasien tiba hingga tindakan dilakukan. Pada kasus gawat darurat, waktu menjadi faktor krusial yang menentukan keselamatan pasien. Tantangan muncul ketika kasus terjadi di daerah yang belum memiliki dokter ahli untuk melakukan tindakan secara mandiri maupun memberikan supervisi langsung.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti mengembangkan sistem teleproctoring yang memungkinkan dokter ahli memberikan asistensi dari jarak jauh melalui video conference. Tim ini dipimpin oleh Muhammad Shiddiq Sayyid Hashuro, S.T, M.Eng., Ph.D., dosen dari Kelompok Keahlian Teknik Biomedika STEI ITB.

Pengembangan sistem melibatkan sejumlah mitra. Tim ITB berperan dalam perancangan sistem serta instalasi teknis di lapangan. Tim Universitas Airlangga memberikan konsultasi medis. Sementara itu, RS Undata Palu berperan sebagai lokasi deployment sekaligus mitra konsultasi medis, dan RS Pusat Otak Nasional Jakarta menjadi mitra pengujian sebagai proctor.

Implementasi pertama dilakukan di RS Undata Palu. Rumah sakit ini dipilih karena merupakan rumah sakit rujukan pelayanan bedah saraf di Provinsi Sulawesi Tengah serta beberapa kabupaten di Sulawesi Barat. Selain itu, waktu implementasi bertepatan dengan rencana pembukaan fasilitas cath lab baru di RS Undata.

Pengembangan teknologi ini dirintis sejak Maret 2025 melalui pengajuan proposal. Tahap perancangan dan pembuatan sistem berlangsung pada Juni hingga Oktober 2025. Survei lapangan dilakukan pada September 2025, dan sistem dideploy pada akhir Oktober 2025 untuk uji coba.

Dalam praktik bedah saraf, dokter spesialis yang baru mendapatkan sertifikasi masih diwajibkan menjalani masa pengawasan (proctored) selama beberapa bulan pertama saat melakukan tindakan. Teleproctoring memungkinkan pengawasan tersebut tetap dilakukan tanpa kehadiran fisik proctor di lokasi.

Secara teknis, sistem ini memungkinkan komunikasi dua arah antara proctor dan dokter operator. Perangkat yang digunakan terdiri dari kamera, video capture dan perangkat periferal. Kamera merekam gambar dan audio selama tindakan berlangsung, dengan sudut pandang yang dapat dikontrol secara jarak jauh oleh proctor melalui perangkat lunak sistem. Video capture berfungsi mengakuisisi video dari pencitraan angiografi untuk ditampilkan kepada proctor. Tampilan tersebut dapat dianotasi oleh proctor melalui sistem untuk memberikan arahan secara langsung. Perangkat periferal meliputi monitor sebagai antarmuka sistem dan speaker untuk menyampaikan instruksi dari proctor.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengguna setelah penggunaan alat, skenario pemanfaatan sistem meliputi emergency consultation, routine surgery guidance, teaching/training residents, serta second opinion consultation. Adapun prosedur yang dapat didukung antara lain DSA, coiling, thrombectomy, dan embolization.

Melalui sistem ini, supervisi medis jarak jauh dapat dilakukan secara terstruktur dan real-time, sehingga membantu menjawab kebutuhan pendampingan tindakan di daerah dengan keterbatasan tenaga ahli.

id_IDIndonesian