Prof. Tati Latifah menerima Habibie Award 2019 Bidang Ilmu Rekayasa

Salah satu profesor dari STEI yang kini berkarya di bidang teknik biomedis, Prof. Dr. Ir. Tati Latifah, menerima Habibie Award 2019 dalam kategori ilmu rekayasa.

Yayasan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM IPTEK) melaksakan penganugerahan Habibie Award ke 21 di Jakarta, Selasa (12/11). Penghargaan ini diberikan kepada lima ilmuwan Indonesia yang telah memberikan kontribusi kepada bangsa.

Ketua Pengurus Yayasan SDM-Iptek, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, menjelaskan Habibie Award merupakan program utama Yayasan SDM IPTEK yang telah diselenggarakan sejak tahun 1999. Penerima Habibie Award dipilih melalui proses seleksi panitia.

Habibie Award diberikan kepada lima ilmuwan yang telah berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan di Indonesia. Lima ilmuwan terpilih tersebut adalah Prof Dr Ivandini Tribidasari Anggraningrum (bidang ilmu dasar), Prof dr Adi Utarini Msc, PhD (bidang ilmu kedokteran), Prof Dr Ir Tati Latifah Erawati Rajab (bidang ilmu rekayasa), Prof Dr Eko Prasojo, Mag.rer.publ (bidang ilmu sosial dan politik), dan Dr (HC) I Gusti Ngurah Putu Wijaya, SH (bidang ilmu kebudayaan).

Prof. Tati Latifah Erawati Rajab dianugerahi Habibie Award di bidang Ilmu Rekayasa atas jasa-jasanya dalam berbagai inovasi teknologi dan pendidikan biomedika. Prof. Tati, yang merupakan ketua KK Teknik Biomedis, mengembangkan berbagai alat kesehatan dengan bekerja sama dengan rumah sakit atau fakultas kedokteran, antara lain alat bantu rehab medik pascaoperasi, software periksa mata, sistem sensor ElectroEnchepaloGraphy, dan sistem deteksi dini kanker payudara. Tiga paten terdaftar berupa Non-Invasive Vascular Analyzer atau NiVa untuk mendeteksi tingkat kelenturan pembuluh darah, alat ElektroKardioGrafi 12 lead dengan telemetri, dan perangkat Elisa Reader versi baru untuk mendeteksi virus hepatitis B.

Beliau turut berkontribusi dalam penelitian desain awal pembuatan chip modern pada medio 1980-an, hingga kemudian mengembangkan sebuah aplikasi ponsel untuk mengedukasi ibu hamil tentang kesehatan janin dan anak.⁣ Karya beliau mencakup berbagai alat kesehatan yang sudah dipakai di rumah sakit, mencakup alat bantu rehab medik pasca operasi, software pemeriksaan mata, sistem sensor ElectroEncephaloGraphy, serta sistem deteksi dini kanker payudara.

Hingga tahun lalu terdapat 61 orang penerima Habibie Award. Penghargaan ini diberikan kepada perseorangan atau badan yang dinilai sangat aktif dan berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan berbagai kegiatan IPTEK yang baru (inovatif) serta bermanfaat secara berarti (signifikan) bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.

 

 

Berita Terkait