Kecerdasan Buatan: Masa Depan Dunia Menurut Seorang Dosen ITB

Artificial Intelligence. Bagi orang awam, istilah ini mungkin masih terasa asing meskipun bentuk pemanfaatan dan pengaplikasiannya sendiri sudah cukup umum di masyarakat. Sebagaimana fitur Discover Weekly yang dapat kita temukan pada situs streaming musik Spotify. Begitu pula penggunaan AI yang diterapkan pada aplikasi travel dan navigasi seperti Gojek, Grab, atau Google Maps.

“Inti dari AI sebenarnya adalah bagaimana kita mereplikasikan hal-hal yang bisa manusia pikirkan dan lakukan ke dalam komputer,” jelas Pak Utama yang merupakan salah satu pengajar di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

Pria yang memiliki nama lengkap Nugraha Priya Utama ini menjelaskan bahwa ketertarikannya kepada AI berawal dari sebuah ketidaksengajaan saat belajar mengenai computational intelligence dan system science di Jepang. Kesempatan untuk melakukan penelitian ke Neuroscience Institute di Tokyo membuat beliau menyadari bahwa pikiran manusia sebenarnya merupakan sesuatu yang kompleks. Hingga pada akhirnya, beliau tertarik untuk mempelajari lebih jauh bagaimana mereplikasi kemampuan tersebut kepada algoritma komputer.

“Kebetulan pada masa itu hal-hal yang mendukung penelitian tersebut sudah mulai berkembang. Ibaratnya kalau orang surfing itu arusnya sudah mulai naik dan pas. Jadi ya akhirnya lanjutlah sampai sekarang,” kenang Pak Utama.

Ketika ditanya mengenai perkembangan AI di dunia pada masa kini, Pak Utama menganalogikannya seperti anak umur lima atau tujuh tahun jika dibandingkan kemampuannya head-to-head dengan otak manusia. Namun jika dilihat secara spesifik pada bidang-bidang tertentu seperti pengenalan visual, pengaturan strategi, front detection, dan kemampuan mengenali emosi secara otomatis, AI bisa dibilang sudah setara dengan manusia.

AI Bisa Berubah Menjadi Terminator?

Dengan terus berkembangnya dunia AI, adakah kemungkinan bahwa AI bisa berkembang sampai seperti Terminator yang sanggup melukai manusia? Ketika ditanya mengenai hal ini, Pak Utama menjawab bahwa kemungkinan tersebut bisa saja terjadi mungkin sekitar lima puluh tahun lagi. Namunm beliau menjelaskan bahwa sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kita menjaganya agar tidak sampai ke arah itu.

Beliau memberi contoh mengenai dua model AI buatan Google yang ternyata dapat menciptakan bahasa mereka sendiri. Namun, karena para peneliti tidak dapat memahami arti dari bahasa yang diciptakan para robot tersebut, para peneliti akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek tersebut untuk menghindari risiko yang lebih besar. Dari sanalah kita tahu bahwa sebenarnya AI memang bisa berkembang kemana-mana. Kontrolnya tetap ada di manusia.

“Jadi poinnya memang kontrol itu ada di kita. Mau sampai sejauh mana. Tapi jika ditanya apakah mungkin, saya optimis mungkin-mungkin saja. Apakah akan jadi jahat terhadap kita? Ya mudah-mudahan tidak.”

Pak Utama juga menjelaskan, bahwa perkembangan AI saat ini terbilang sangat cepat. Namun beliau menekankan, bahwa perkembangan yang pesat ini berlaku pada weak AI yang diciptakan untuk menangani tugas-tugas spesifik, contohnya seperti robot yang berada di pabrik-pabrik mobil. Belum sampai ada yang punya kemampuan layaknya Terminator.

Sejauh Apa Perkembangan AI di Indonesia?

Selain diterapkan pada perdagangan (e-marketing), Pak Utama mengatakan bahwa banyak sistem-sistem pemerintah yang sudah mulai menggunakan AI, seperti penerapan front detection pada Pegadaian. Sejumlah institusi pertahanan juga mulai mencoba penggunaan AI untuk membantu menyaring dan mencegah agar berita-berita hoax tidak sampai tersebar.

“Jadi jika ditanya apakah ada kemajuan di Indonesia, tentu ada. Tapi belum se-advanced Cina dan Amerika. Kita sedang ke arah situ. Jangan khawatir. Kita kuat kok. Banyak orang hebat di kita,” Pak Utama berkata dengan optims. 

Menurut beliau, salah satu hal yang menjadi kendala saat ini adalah kurang bagusnya manajemen dokumentasi data-data lokal yang dapat men-support semua aktivitas penelitian dan pengembangan.

“Jika dibandingkan dengan negara ASEAN, nomor satu saat ini tentu masih Singapura. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Kamboja, Brunei, Myanmar, kita masih di atas mereka.”

Berita Terkait