Pak Dwi, Ahli Machine Learning dari ITB

Prof Dwi Hendratmo, ahli Machine Learning.

Istilah machine learning mungkin masih belum begitu familiar di telinga kita. Meskipun begitu, machine learning merupakan salah satu bidang ilmu penting yang bentuk banyak diterapkan di kehidupan masa kini. Di Indonesia, misalnya, fitur rekomendasi pada aplikasi e-commerce yang biasa kita gunakan merupakan contoh dari penerapan machine learning.

Prof. Dwi Hendratmo W., Ph.D adalah salah satu orang yang ahli dalam bidang ini. Pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan bidang Akademik di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB ini bercerita bahwa ia sebenarnya telah menggeluti bidang ini semenjak ia menyelesaikan pendidikan sarjananya. Padahal, saat itu machine learning sendiri masih belum begitu populer seperti sekarang.

Hingga pada akhirnya, beliau pun menekuni bidang ini secara total ketika menjalani S2 dan S3 di Texas, Amerika Serikat. Machine learning menjadi topik yang ia angkat untuk tema tesis dan disertasinya pada masa itu. Hal ini akhirnya berlanjut hingga saat ini, di mana Pak Dwi juga masih terus melanjutkan penelitian di bidang machine learning, baik di sisi teori maupun penerapannya.

Machine Learning adalah Cabang dari Artificial Intelligence

Pak Dwi berpendapat, machine learning bisa dikatakan sebagai bagian dari AI. Karena memang mesin atau komputer didesain untuk bisa mempelajari emosi, sikap, dan kebiasaan manusia.

Lantas, apakah mungkin di masa depan akan terdapat komputer yang bisa memiliki perasaan dan emosi sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini, Pak Dwi mengatakan bahwa topik tersebut saat ini sebenarnya sedang dikembangkan di dunia riset. Beliau tidak memungkiri kemungkinan bahwa di masa depan—dengan data-data yang dimiliki saat ini—bisa saja tercipta komputer yang mampu meniru emosi manusia. 

Machine Learning dan Indonesia

Ketika ditanya mengenai jarak ketertinggalan saintek antara Indonesia dan negara-negara maju seperti Amerika, pria yang memperoleh gelar master dan doktoratnya di Texas A&M University ini menjelaskan bahwa perbedaan signifikannya hanya terdapat di persoalan funding atau pendanaan. 

Pak Dwi menjelaskan, di negara-negara maju memang sudah ada organisasi-organisasi khusus seperti NSF yang mempunyai dana khusus untuk pengembangan riset-riset terkini. Teknisnya, organisasi-organisasi ini memberikan challenge kepada para peneliti untuk menemukan jalan keluar terkait persoalan baru yang masih belum ada solusinya. Sedangkan di Indonesia, kita belum sampai pada tahap ini, karena saat ini negara kita lebih fokus untuk mencari bagaimana cara menerapkan hasil-hasil penelitian tersebut untuk kepentingan masyarakat luas.

Saat ini Pak Dwi mencoba untuk lebih banyak konsisten meneliti dan mengikuti perkembangan terkini di bidang machine learning, juga melakukan riset dengan memaksimalkan dana dan fasilitas yang ada. Selain itu, peran beliau sebagai seorang dosen dan pengajar juga menuntut untuk dapat menghasilkan output-output seperti publikasi dan paper-paper yang berkualitas. 

Selain publikasi, Pak Dwi juga mengembangkan prototype produk terapan machine learning, seperti platform pengawasan cerdas atau smart surveillance di mana beliau memanfaatkan teknologi machine learning untuk menganalisis konten dari video menjadi bentuk informasi yang dapat diakses dengan cepat.

Pak Dwi juga berpesan kepada mahasiswa-mahasiswanya untuk belajar dengan tekun dengan memaksimalkan segala fasilitas yang tersedia. Menurut beliau, machine learning merupakan bidang yang akan mendominasi kedepannya, sehingga ilmu-ilmu yang dipelajari semasa kuliah sudah pasti akan terpakai di segala bidang. 

Berita Terkait