Pengabdian Profesor Tati Latifah dan Tim Biomedis ITB untuk Masyarakat

Prof. Tati Mengko bersama Tim Biomedis.

Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan benda yang bernama chip, yakni salah satu komponen elektronik kecil yang penting dalam sistem komputer. Siapa sangka, Indonesia ternyata memiliki anak-anak bangsa yang juga turut berkontribusi dalam penelitian untuk desain awal pembuatan chip modern pada tahun 80-an.

Adalah Prof. Dr. Ir. Tati Latifah Erawati Rajab atau biasa dipanggil Bu Tati. Beliau berkecimpung dan menggeluti dunia mikroelektromagnetik sejak masih menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung. Hal ini tentu saja membuat Bu Tati dan timnya otomatis ikut berpartisipasi dalam penelitian chip pada masa itu.

Sayangnya, penyakit stroke yang menyerangnya pada tahun 2004 terpaksa membuat beliau berhenti dari penelitian tersebut. Setelah beliau telah sembuh, perempuan yang hingga saat ini (2019) masih menjadi profesor wanita tunggal di STEI, memutuskan untuk menerapkan ilmunya di dunia biomedis, bidang gabungan antara teknologi dan kesehatan. Selain karena ingin menggali penyelesaian tentang penyakit stroke yang dialaminya, memang banyak juga kebutuhan yang bermunculan di bidang biomedis.

Tekad Meningkatkan Kualitas Kesehatan Lewat Teknologi Biomedis

Biomedis sendiri sebenarnya merupakan jurusan baru di ITB, yang tepatnya berdiri pada tahun 2015. Walau demikian, pada tahun 1997 sudah terdapat peminatan di bidang ini.

Salah satu produk biomedika ITB yang kini sudah mulai diaplikasikan untuk dunia nyata adalah software/aplikasi di ponsel yang diperuntukkan untuk mengedukasi hal-hal seputar kesehatan kepada ibu dan anak. Ide ini berawal dari keprihatinan akan angka kematian ibu dan anak di Indonesia yang masih cukup tinggi. Mirisnya lagi, kebanyakan penyebab kematiannya terjadi karena hal sepele seperti diare dan kurang gizi.

“Pemikiran  pertama kita adalah bagaimana menggunakan teknologi ICT untuk membantu masalah ini,” jelas Allya Paramita Koesoema, rekan Bu Tati yang juga salah satu tim pengembang aplikasi biomedis ini.

Bersama dengan ibunya, Yoke Saadia Swito dan tim yang lain, Allya pun akhirnya merancang sebuah aplikasi yang ditujukan untuk mempermudah pengerjaan laporan administrasi dan deteksi dini bagi bidan. Juga sebagai sarana agar para ibu bisa lebih mengerti mengenai kesehatan anaknya.

Putar Otak Agar Aplikasi Bisa Terpakai Masyarakat

Setelah mengembangkan aplikasi biomedis, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah promosi. Bagaimana caranya? Sebab, kalau hanya disebar tanpa sosialisasi tentu akan menjadi masalah, mengingat rendahnya minat membaca pada ibu-ibu di Indonesia.

Dari sana, Bu Tati, Yoke, Allya, dan tim biomedis ITB pun memutuskan untuk mengembangkan board games sebagai instrumen pelengkap agar penyuluhan menjadi lebih menarik di mata para ibu-ibu Indonesia. Cara ini terbukti efektif dan kini sedang menunggu proses pengembangan sebagai produk mobile games.

Tim biomedis ITB membagikan game ini di berbagai puskesmas dan kelas-kelas ibu hamil.

Selain aplikasi bagi ibu dan anak, tim bio medikal ITB juga mengembangkan teknologi lain untuk pengabdian masyarakat yang tak kalah menariknya. Mereka menciptakan alat yang dapat digunakan untuk membantu proses rehabilitasi bagi pasien pasca-stroke. Inspirasi pembuatan alat ini juga tentu saja untuk membantu Bu Tati yang pernah terkena stroke sebelumnya.

Proyek ini diikutkan pada lomba inovasi alat kesehatan di UI pada tahun 2017. Dari pengembangan ini, tim biomedis mendapatkan kesempatan untuk melakukan konsultasi dengan dokter-dokter yang ada di UI.

Dari sinilah terlahir ide untuk mengombinasikan terapi kaca dan terapi sepeda yang biasanya didapati pada proses rehabilitasi pasca-stroke. Teknisnya, alat ini akan meminta pasien untuk melakukan gerakan terapi, selagi di saat yang bersamaan sinyal otak pasien akan direkam untuk kemudian dianalisis guna meneliti bagian otak mana yang terkena masalah. Cara ini terbukti lebih efektif dan menghemat waktu pemeriksaan.

Berita Terkait