Dr. Ir. Syarif Hidayat, Ahli Petir dan Kabel Laut Indonesia yang Menyaingi Orang Eropa

Sebagai negara kepulauan tentunya akan sangat boros apabila kita membangun satu pembangkit listrik di setiap pulau yang ada. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan menggelar kabel-kabel laut dari satu pembangkit listrik besar menuju pulau-pulau di sekitarnya. Sayangnya, pada masa lalu, masih belum banyak pihak yang berani untuk merealisasikannya.

Berangkat dari situlah, Dr. Ir. Syarif Hidayat melihat adanya peluang untuk mengabdi kepada negara. Pada tahun 2006, pria yang sekarang menjabat sebagai lektor kepala di Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memutuskan untuk menekuni aspek-aspek teknis dan bisnis dari penggelaran kabel laut. Pak Syarif asalnya merupakan ahli penelitian petir di Indonesia.

Pria yang bercita-cita mendirikan pabrik kabel laut ini juga menjelaskan bahwa beberapa perbedaan mendasar yang dimiliki oleh kabel darat dan laut. Seperti perbedaan jumlah sambungan, dimana kabel darat memiliki banyak jumlah sambungan karena terdapat batas maksimum jumlah angkutan yang diberlakukan. Sedangkan, hal ini justru berbanding terbalik dengan kabel laut yang tak memiliki aturan batas maksimum jumlah angkutan. Inilah yang membuat kabel laut didesain hanya untuk satu kali bentangan saja, berapa pun panjang kabel yang diperlukan.

Meskipun kabel laut dinilai lebih efektif untuk menghubungkan dari pulau ke pulau, Pak Syarif juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa ketentuan teknis yang perlu dipenuhi untuk pemasangan kabel di laut, seperti keselamatan bagi kabel, lingkungan, dan para pengguna laut yang lain. Sehingga, kabel laut bisa memberikan manfaat yang maksimal untuk penyebaran listrik di Indonesia serta tidak mengganggu lingkungan.

Pak Syarif dan Berbagai Macam Inovasinya untuk Kabel Laut

Memasang kabel laut bukanlah hal mudah. Sebab untuk menurunkan kabel di dasar laut perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak komponen kabel. Dari permasalahan ini, Pak Syarif dan timnya akhirnya mengembangkan sebuah teknologi yang memungkinkan kapal untuk menurunkan kabel dengan presisi pada satu titik tanpa terganggu oleh aliran arus dan angin. Teknologi yang disebut Dynamic Positioning System (DPS) ini, telah berhasil dikembangkan tanpa lisensi oleh Pak Syarif dan tim dari ITB.

Selain DPS, Pak Syarif dan tim dari ITB juga mengembangkan teknologi untuk menggali parit yang nantinya akan digunakan untuk menanam kabel, seperti membajak sawah tetapi di bawah laut. 

Bahkan, Pak Syarif juga telah menciptakan sebuah teknologi bernama Concrete Shell, yakni sebuah sistem proteksi kabel pertama di dunia yang terbuat dari beton. Kenapa harus dari beton? Ini merupakan solusi atas maraknya pencurian logam yang sering kali terjadi di Indonesia. Beton tidak terasa menarik bagi pencuri, itulah kenapa sangat cocok diterapkan di Indonesia.

Mimpi Besar Pak Syarif

Pria yang memperoleh gelar doktoratnya dari University Of Tokyo, Jepang ini mengatakan tentang perbedaan antara Indonesia dan negara maju seperti Jepang. Mengapa Jepang bisa maju, sementara Indonesia tidak? Padahal kita masih sesama bangsa Asia.

“Apa yang terlihat (inovasi di negara maju) di permukaan (di media) itu merupakan buah dari mimpi,” ujar Pak Syarif. “Yang sangat kurang dari bangsa kita adalah bermimpi. Tidak ada yang berani bermimpi untuk menghasilkan sesuatu. Karena jika bicara soal sumber daya, sebenarnya kita setara. Yang kurang hanyalah mimpi bersama sebagai bangsa.”

Pak Syarif sendiri hidup dari mimpi-mimpinya untuk bisa mengalahkan teknologi-teknologi di Eropa dan negara-negara maju lainnya. Penggelaran kabel laut di Indonesia itu adalah salah satu idenya untuk bersaing dengan orang asing. Bahkan, selain mengerjakan proyek di Indonesia, Pak Syarif baru-baru ini malah mendapatkan tawaran dari orang-orang asing yang dulu mengucilkannya untuk menggelar kabel di Thailand.

Dari segala bidang yang ia tekuni, mulai dari petir, urinoir, sampai penggelaran kabel laut, Pak Syarif mengatakan sebenarnya tidak ada yang berhubungan langsung secara teknis. Meski begitu, semua adalah rangkaian dari mimpi besarnya untuk merealisasikan kemajuan Indonesia. 

“Sebenarnya koneksinya di blue ocean. Saya hanya memberanikan diri untuk merambah dunia baru yang menurut saya bisa saya kerjakan, namun menurut orang lain sebaliknya,” jelas Pak Syarif, “Enak kan bisnis kalau tidak ada saingannya. Tapi ya itu tadi. Harus berani ambil risiko. Harus mau bermimpi.” (BW)

Berita Terkait