STEI Turut Serta dalam Satgas Bencana Gempa Bumi Lombok yang Dibentuk ITB

BANDUNG, bandungkiwari – Institut Teknologi Bandung (ITB) membentuk tim satuan tugas (satgas) untuk ditugaskan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tim yang dibentuk Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global, ITB, ini terdiri dari pakar geologi dan mitigasi bencana.

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi Miming Miharja mengatakan, Tim Satgas ITB untuk bencana Lombok bertugas menyusun rencana dan aksi bantuan kemanusiaan.

“Dalam jangka pendek tim satgas ITB ini akan mengirimkan tim untuk melakukan assessment kelayakan bangunan publik, membantu dalam pengiriman bantuan pokok makanan, obat-obatan, selimut dan lain-lain bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IA)-ITB,” terang Miming Miharja, melalui siaran persnya, Rabu (8/8/2018).
“Selanjutnya tim akan melaksanakan program penyediaan fasilitas air minum, serta mempelajari potensi bencana ke depan serta menganalisa gempa susulan dan longsoran,” lanjutnya.

Untuk jangka menengah, yaknit tahap rehabilitasi-rekonstruksi, ITB akan memperkenalkan teknologi bangunan dengan struktur bambu yang dikembangkan oleh KK Teknologi Bangunan Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Selanjutnya akan dicoba penerapan Teknologi Open BTS yang dikembangkan oleh Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI).

Untuk keseluruhan program bantuan, satgas ITB akan bekerjasama dengan LPPM Universitas Mataram dan pihak-pihak lain yang terkait.

“Pimpinan dan Keluarga Besar Institut Teknologi Bandung mendoakan dan turut berupaya agar korban bencana gempa Lombok dapat segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Semoga kondisi di wilayah bencana segera pulih seperti sedia kala. Aamiin YRA,” kata Miming Miharja.

Sebelumnya, berselang satu hari setelah Gempa Lombok 29 Juli 2018, Prof. Nanang T. Puspito selaku Ketua Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global membentuk tim untuk melakukan pemasangan seismometer di Lombok.

Tim KK Geofisika Global yang dikoordinir Dr. Andri Dian Nugraha beranggotakan Dr. Zulfakriza sebagai koordinator lapangan serta Yayan M. Husni, MT, Pepen Supendi, MT dan Dr. Muzli (BMKG) tiba di Lombok pada tanggal 1 Agustus 2018 dan masih berada di Lombok pada saat Gempa 5 Agustus 2018.

Pemasangan seismometer tersebut bertujuan untuk memantau gempa susulan setelah gempa magnitudo 6.4 yang terjadi di Lombok bagian utara.

“Sampai dengan kemarin (7/8/2018), sudah 13 Seismometer yang terpasang,” ujar Prof. Nanang. Sebanyak 7 buah seismometer merupakan hasil kerjasama ITB dan Earth Observatorium of Singapore (EOS). Pemasangan seismometer ini tersebar di Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Utara.

Monitoring gempa susulan Gempa Lombok akan dilakukan selama satu bulan. Harapannya, selama satu bulan, tujuh seismometer yang ditempatkan dapat merekam gempa-gempa susulan untuk kepentingan analisis potensi gempa ke depan. Rekaman gempa susulan termasuk gempa pada 5 Agustus 2018 yang diperkirakan sebagai gempa utama dapat menjadi pemahaman baru terkait sumber dan mekanisme kejadian gempa Lombok 2018.

Selain melakukan pemasangan seismometer, tim juga melakukan koordinasi dengan BMKG Mataram dan BPBD Lombok Utara dan Pos Pengamatan Gunung Rinjani. Beberapa dosen dari KK Geodesi juga telah berada di Pos Rinjani untuk melakukan mitigasi dan observasi bencana. (Iman Herdiana via Kumparan)

Berita Terkait