“Gas Terus!” Wawancara dengan Immanuel Deo Silalahi, Mahasiswa Berprestasi STEI 2018

Proses pemilihan Mahasiswa Berprestasi ITB telah berakhir bulan pada bulan Maret. Setelah melalui beberapa tahapan sejak Januari 2018, Mapres dari 6 fakultas bersaing dalam babak final, Rabu (28/3/2018). Meskipun acara tersebut sudah agak lama, tidak ada salahnya bila kita mengenal lebih jauh penyandang gelar dari Mahasiswa Berprestasi STEI, Immanuel Deo Silalahi. Deo yang merupakan mahasiswa program studi Teknik Tenaga Listrik meraih juara ketiga di ajang pemilihan Mahasiswa Berprestasi ITB. Meskipun tidak mewakili ITB ke tingkat nasional, Prestasi yang dia capai tidaklah sedikit – Mahasiswa Berprestasi hanya satu dari sekian banyak ajang yang dia ikuti.

Berikut adalah wawancara STEI dengan Deo pada pertengahan Mei lalu.

Saat ini mengambil jurusan apa dan tahun keberapa? Mengapa mengambil jurusan tersebut?

Aku mengambil Jurusan Teknik Tenaga Listrik. Saat ini sudah masuk semester enam, tahun ketiga. Sebenarnya dulu ada keinginan masuk FTMD, mesin umum. Aku suka belajar termodinamika, terutama mengenai konveksi – perpindahan panas melalui fluida. Tetapi karena orangtua bilang untuk masuk STEI, akhirnya lihat pilihan jurusannya. Ternyata ada teknik tenaga listrik yang mempelajari mesin juga di samping kelistrikan. Jadilah memilih STEI.

Seperti apa kamu waktu SMA? Apakah ada perbedaan dengan sekarang, saat sudah menjadi mahasiswa?

Ketika SMA aku aktif dalam kegiatan olimpiade dan musik. Sejak kecil aku sangat suka IPA, terutama saat SMP ke SMA, dalam bidang fisika. Jadi aku beberapa kali mewakili propinsi Riau dan Sumatera Utara untuk Olimpiade Fisika Nasional. Selain itu aku juga tertarik dalam bidang piano klasik. Aku juga suka nge-groove bareng teman-teman SMA-ku, main saxo (saksofon, red.).

Selain sebagai mahasiswa, apa saja kesibukan kamu di dalam maupun di luar kampus?

Aku banyak ikut program internship dan leadership organization  di luar kampus. Salah satu yang pernah aku ikuti adalah internship dari Philip Morris International. Waktu itu aku internship di bagian Supply Chain Management. Sekali pun tidak ada hubungannya dengan jurusan, itu adalah internship terkeren yang pernah aku ikuti.

Nama lain dari internship ini adalah INKOMPASS. Di sini, kami sebagai intern diberi real business problems and real work cases. Kami dilibatkan dalam brainstorming ideas and solutions untuk menyelesaikan masalah yang ada. Selain itu, kami diberi kesempatan untuk presentasi ke Board of Directors secara langsung, memaparkan ide dan solusi yang kami buat.

Aku juga aktif di Young Leaders for Indonesia, salah satu leadership program dari McKinsey&Company. Maret 2018 lalu aku sempat terpilih menjadi delegasi Indonesia di Bonn, Jerman, untuk Sustainable Development of Global Festive of Campaign.

Kalau di dalam kampus, aku aktif di ISO (ITB Student Orchestra), sebagai ketua ekstrakampus; UKSU (Unit Kesenian Sumatera Utara) sebagai ketua Mentor PPAB, dan PMK (Persatuan Mahasiswa Kristen) sebagai ketua logistik.

Aku juga suka ikut lomba business case. Terakhir aku mengikuti lomba the ASEAN Foundation Model ASEAN Meeting 2018 bersama enam rekan lainnya dari universitas yang berbeda.

Selama menjalani kuliah, apa kesulitan/masalah tersulit/terbesar yang pernah kamu hadapi dan bagaimana cara menanggulanginya?

Yang paling sulit rasanya waktu menjalani praktikum semester 5. Pikiran stres, tubuh lelah, dan tidur sangat kurang. Praktikum mengharuskan untuk mengerjakan laporan tulis tangan di atas enam puluh halaman folio!

Pada tahap ini dituntut manajemen waktu yang sangat baik, (karena di samping itu ada) tanggung jawab sebagai ketua divisi di unit dan kegiatan luar kampus lainnya. Waktu tidur terpaksa dikurangi dan waktu berolahraga juga kurang.

Dalam perjalanan menjalani semester 5, aku selalu menyempatkan tidur di mana saja dan kapan saja jika memungkinkan, walaupun hanya lima belas menit. Karena selain pentingnya menjaga performa akademik dan tanggung jawab sebagai ketua divisi, menjaga kesehatan juga menjadi faktor krusial.

Aku buat timeline dengan breakdown per minggu, per bulan, dan per dwi bulanan. Breakdown timeline ini sangat efektif membantuku untuk dapat mengerjakan setiap hal yang menjadi tanggung jawabku.

Apa topik yang dipresentasikan dalam proses seleksi Mahasiswa berprestasi? Mengapa tertarik memilih topik tersebut?

Topik yang kupilih adalah Renewable Energy, dengan judul “Movable Low-Energy Lamp With Portable Germanium-Nanomorphologies Solar Cell And Pedalectric Hybrid System In 3T Region”. Hybrid Energy ini adalah konsep penggabungan dua atau lebih sumber energi terbarukan yang berbeda menjadi satu sistem untuk membangkitkan energi listrik

Topik Hybrid Energy sangat cocok untuk diteliti di jurusan Power. Perkembangan teknologi zaman sekarang menuntut kita mahasiswa untuk berinovasi lebih mumpuni. Konsep ini (adalah) sebagai landasan berpikir untuk Smart Grid, dan penelitian terakhir yang bernama Super Grid.

Boleh diceritakan tahapan-tahapan yang dilewati selama menjalani proses seleksi Mahasiswa Berprestasi? Apa yang menurut kamu menarik selama proses seleksi berlangsung?

Tahapan awal adalah pemilihan mapres jurusan, kemudian fakultas, lalu terakhir mapres tingkat ITB. Di tahap jurusan, ketua jurusan mengurutkan mahasiswa berdasarkan IPK untuk mendaftar dan (diadakan) seleksi karya tulis dengan topik Sustainable Development Goals.

Setelah lolos di tahap jurusan, aku bertanding di fakultas dengan lima jurusan. Di tahap ini aku membuka presentasi dengan Bahasa Perancis – saat ini aku juga sedang belajar bahasa Perancis di IFI Bandung. Aku diumumkan sebagai Mapres tingkat Fakultas dan meluncur ke tingkat ITB.

Di tingkat ITB, aku mendapat juara ketiga. Pemenangnya adalah mahasiswa Aeronautika (FTMD) dan Teknik Pangan (FTI). Yang menarik dari tahap ini adalah pertanyaan juri yang sangat beragam. Pertanyaan yang paling aku ingat adalah, “Bagaimana kamu bisa meyakinkan pemerintah untuk membeli alat kamu jika ada banyak alat lain yang lebih murah dan lebih bagus dibanding alat kamu?”

Aku menjawab sesederhana mungkin, “Aku yakin rancangan alat yang kubuat sesuai dengan standar dan seratus persen inovasi Indonesia. Aku akan bersaha untuk mengurangi biaya yang dibutuhkan dan mengunggulkan bahwa inovasi dan penelitian akan alatku adalah asli pemikiran Indonesia. Pemerintah tentu akan senang dong, dengan karya asli Indonesia?”

Gelar Mahasiswa Berprestasi STEI tentu adalah predikat yang membanggakan, tapi pastinya tidak akan berhenti di situ, kan. Selanjutnya, apa rencana kamu ke depannya?

Aku ingin melanjutkan pendidikan Master Degree di Eropa, terutama Perancis dan Jerman. Aku ingin belajar lebih mendalam mengenai renewable energy dan super grid. Setelah itu aku ingin bekerja di luar negeri sebagai insinyur di bidang energi dan membawa ilmu yang kupelajari untuk diterapkan di Indonesia. Nantinya aku akan membangun perusahaan di Indonesia untuk membangun Indonesia.

Apa pesan kamu untuk mereka yang tertarik masuk ke STEI, atau adik kelas yang kini sedang menjalani kehidupan akademiknya di STEI?

Kalian berada di jalan yang sangat tepat. STEI adalah fakultas terdepan di ITB, di mana pusat inovasi paling baru dan intuisi terbaik bangsa ada di sini. Aku yakin mahasiswa yang ada di STEI akan menjadi orang-orang hebat yang mampu mengubah Indonesia menjadi negara maju dan negara yang disegani karena kehebatan teknologinya.

Sangat wajar jika mata kuliah dan beban akademik yang diberikan oleh fakultas STEI dan jurusan di dalamnya sangat sulit. Hal ini akan mengasah kemampuan analitis dan daya juang dalam menyelesaikan masalah. Semangat terus menjalaninya, raih target jangka pendek dan jangka panjangmu, karena kenyataannya kehidupan kuliah adalah permulaan dari kesuksesanmu nantinya. Gas terus!

Berita Terkait