Tim Taleus ITB Melenggang ke Asia Pacific Final Microsoft, Imagine Cup 2018

BANDUNG, LK – Setelah berhasil masuk ke final Indonesia dalam ajang Imagine Cup 2018 pada 15 Maret 2018 lalu di Jakarta, Tim Taleus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil melenggang ke tahapan selanjutnya yakni Asia Pasific Finals Imagine Cup 2018 yang akan diadakan 2-5 April 2018 di Kuala Lumpur.

Dalam kompetisi yang diadakan oleh Microsoft tersebut, Tim Taleus membuat sebuah aplikasi Dr. Tania yang mampu membantu petani dalam mengidentifikasi penyakit serta memberikan solusi penyembuhan terhadap tanaman yang terkena hama. Melalui aplikasi di smartphone, petani cukup mengirim foto daun/tanaman yang sakit, untuk kemudian dianalisis aplikasi Dr. Tania, diidentifikasi penyakitnya, solusi penyembuhan, produk apa yang bisa dijadikan obat hingga lokasi tempat pembelian obat.

“Petani di Indonesia sering kesulitan mengetahui tanaman mereka itu sakit apa. Sekalipun tahu, mereka pun juga sulit mengetahui cara pengobatannya. Hal ini sangat penting bagi mereka karena bisa menyembabkan dampak yang lebih besar seperti gagal panen dan lainnya. Dengan aplikasi Dr. Tania, kami berusaha membantu mengidentifikasi dan memberikan solusi melalui teknologi dan ilmu yang kami miliki,” jelas Febi Ifdillah, salah seorang anggota Tim Taleus.

Diakui Febi, membuat aplikasi sebenarnya mudah, akan tetapi membuat aplikasi yang berguna bagi masyarakat luas dan bernilai dari segi bisnis itu cukup sulit. Menggali ide, teknologi, inovasi, hingga pengembangan bisnis pun dilakukan oleh timnya. Berbasis komunitas, timnya senantiasa menguatkan komunitas petani dengan menambahkan beberapa fitur baru yang lebih membantu petani.

Tim yang beranggotakan Febi Ifdillah, Ahmad Ghifari, dan Harry Kefas saat ini tengah mempersiapkan inovasi aplikasi dalam menghadapi Asia Pasific Final nanti. Ada beberapa pengembangan baru yang akan ditampilkan pada final tersebut, seperti penambahan fitur feedback mechanism. Fitur ini dimaksudkan agar setiap petani yang mengirim gambar tanaman yang sakit, bisa langsung menjadi database tambahan bagi aplikasinya. Semakin banyak database yang dimiliki aplikasi, maka semakin baik. Tak hanya itu, timnya pun tengah mengembangkan platform anotasi sehingga identifikasinya pun lebih akurat.

“Diharapkan ke depannya, semakin banyak data yang dimiliki aplikasi Dr. Tania maka semakin bisa membantu petani. Kami ingin selanjutnya aplikasi ini difokuskan pada komoditas-komoditas khusus yang familiar dipakai di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Tim, Ayu Purwarianti menuturkan, projek pembuatan aplikasi ini merupakan kolaborasi antara beberapa bidang ilmu. Menurutnya, di bidang omputer science, teknik yang digunakan adalah teknik artificial intelligence yaitu dengan deep learning untuk image recognition.

“Ini adalah kolaborasi mahasiswa dengan latar belakang bidang ilmu yang berbeda-beda,” tandas dosen STEI tersebut.

STEI via Kemahasiswaan ITB

Berita Terkait