Tim Silir Berhasil Kembangkan Alat Bantu Deteksi Penyakit Pernafasan Spirometer Digital


Tim Silir Mahasiswa ITB berhasil membuat inovasi alat bantu deteksi penyakit pernafasan berupa Spirometer Digital. Tim ini pun menyabet juara 1 Tanoto Student Research Award (TSRA) 2017/ Foto : Anne/LK

BANDUNG, LK – Pada umumnya alat pengukur volume udara yang masuk ke paru-paru dan mampu membantu mendeteksi adanya penyakit pernafasan seperti spirometer, hanya menghasilkan data manual yang tidak bisa diakses secara online. Namun, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim SIlir berhasil mengembangkan spirometer digital, dimana data yang dihasilkan bisa diakses dimana saja, baik oleh pasien maupun dokter, khususnya melalui sebuah aplikasi pada smartphone.

Salah seorang anggota tim Erya Warandita menuturkan, beberapa keterbatasan spirometer saat ini hanya dimiliki oleh klinik atau rumah sakit tertentu di perkotaan, harga yang cukup mahal, rekam medis yang bersifat konvensional dimana dokter mencacat hasil pengukuran tersebut dan disimpan sebagai arsip. Inovasi dalam hal inilah yang dilakukan oleh timnya.

“Spirometer yang sudah ada saat ini memakai metode generator sensor, sedangkan yang kami buat spirometer digital memakai Pressure Sensor (sensor tekanan). Dengan sensor ini maka akurasi pengukuran dapat ditingkatkan,” ujarnya.

Tidak hanya berinovasi dari sisi metode penerapan pada alatnya saja, tim ini pun melakukan inovasi dalam tahap mobilitas data. Jika selama ini spirometer yang ada masih harus ditulis secara manual oleh petugas medis, namun Tim Silir membuat spirometer digital yang memanfaatkan teknologi digital dengan fitur database online, sehingga semua data pengukuran bisa ditransfer lewat smartphone, sehingga lebih mudah diakses oleh dokter maupun pasien.

“ini sangat bermanfaat bagi petugas medis yang berada di daerah pelosok. Sehingga hasil seorang pasien bisa diakses mudah,” katanya.

Anggota lainnya, Nurhadini menjelaskan bahwa alat ini sudah diuji pada sekitar 60 mahasiswa (30 orang laki-laki dan 30 orang perempuan). Hasil yang didapatkan dari pemakaian spirometer digital bahkan sudah mendekati sama dengan hasil jika memakai spirometer umum.

Ia menyebutkan, bahwa alat ini adalah alat bantu petugas medis dalam mendeteksi kemungkinan suatu gangguan kesehatan, timnya tidak bisa menentukan hasil spirometer seseorang melainkan tetap dokter yang bisa menganalisanya.

“Alat ini sebagai alat bantu penyedia data saja, jadi tetap yang menentukan sehat atau tidaknya seseorang itu dokter. Alat ini juga sudah dikonsultasikan pada ahli biomedik dan dokter juga,” ucapnya.

Tim Silir beranggotakan Erya Warandita (Teknik Elektro), Paskahlis Anjas Prabowo (Teknik Informatika), Nurhadini Fitri Isnaini (Biologi), Beo Nada Rezky (Biologi), Ndaru M Yahya (Desain Produk). Tim ini pun berhasil menyabet juara 1 dalam ajang Tanoto Student Research Award (TSRA) 2017 yang diadakan oleh ITB belum lama ini. (LK ITB)

Berita Terkait