Tim dari STEI ITB Meraih Juara I dan II dalam Kompetisi Go-Hackathon

GO-JEK, penyedia layanan on-demand berbasis aplikasi menyerahkan hadiah kepada tiga tim pemenang kompetisi GO-HACKATHON yang berhasil menciptakan karya teknologi berbasis open source untuk solusi permasalahan sehari-hari.

Tiga tim tersebut berhasil mengalahkan 36 tim lainnya yang masuk babak final pada 25-26 Maret lalu.

Kompetisi GO-HACKATHON yang diselenggarakan pada bulan Februari hingga Maret lalu tersebut, merupakan kompetisi hacking marathon yang pertama kali diadakan GO-JEK dan bertema #KaryaTanpaBatas.

“Kami mengapresiasi seluruh tim peserta yang sudah ikut berkompetisi dalam GO-HACKATHON. Melalui GO-HACKATON, kami semakin yakin bahwa anak-anak muda Indonesia adalah generasi yang penuh inovasi dan bisa melahirkan solusi atas masalah-masalah sosial masyarakat. Mereka hanya perlu diberikan kesempatan. Oleh karena itu, kami berharap penyelenggaraan kompetisi di sektor teknologi seperti ini akan melahirkan karya-karya teknologi yang inovatif dan memiliki dampak sosial bahkan mempercepat pembangunan bangsa,” jelas Monica Oudang, HR Director GO-JEK Indonesia di Jakarta, Selasa (25/4/2017).

Juara pertama GO-HACKATHON diraih oleh tim SAILLY dari Bandung, yang beranggotakan dua mahasiswa STEI ITB serta satu alumni:
Alif Raditya Rochman
Ahmad Zaky – 13512076
Andre Susanto – 13512028

Mereka memenangkan hadiah utama berupa uang tunai sebesar Rp 120 juta.

Tim SAILLY mengembangkan layanan pelacak yang disebut GO-TRACK, yang dapat membantu penggunanya untuk menemukan barang-barang yang hilang di jalan. Sistem tracking ini punya kelebihan yaitu memanfaatkan sistem Bluetooth sehingga tidak perlu internet, biaya yang murah dan daya baterai yang bisa mencapai satu tahun.

Posisi kedua diraih tim SSX_Ceria yang juga berasal dari STEI ITB:
Muhammad Mustadi (13210056)
Fadil Mochammad ( 13212118)

Tim ini terinspirasi membuat karya teknologi dari logo GO-JEK. Tim SSX_Ceria mengembangkan Caprica, helm pintar yang mengintegrasikan proteksi, data gathering, dan kenyamanan pengguna. Helm pintar ini punya tiga fitur unggulan yaitu: SOS Alert yang berfungsi mengirimkan sinyal bahaya kepada ambulans terdekat bila pengguna mengalami kecelakaan; Bluetooth Speaker yang bisa menghubungkan mitra driver dengan pengguna GO-JEK bila ada panggilan, terakhir Speed Warning yang menghubungkan helm dengan akselerator kendaraan melalui GPS smartphone. Anggota tim ini masing-masing memenangkan Macbook Pro.

Sedikit berbeda dari dua tim sebelumnya yang memberikan solusi saat berkendara, Juara III GO-HACKATHON, Tim Quantum Sigmoid dari Jakarta, menciptakan layanan Cloud Base Food Image Recognition. Di mana, dengan hanya mengambil gambar makanan, layanan tersebut bisa mengenali nama makanan tersebut. Karya teknologi ini memanfaatkan artificial intelligence dan deep learning. Tim yang digawangi dua orang lulusan Institut Pertanian Bogor ini, masing-masing mendapatkan smartphone Google Pixel.

“Para dewan juri memilih ketiga tim tersebut karena mereka memiliki ide yang orisinal, bisa diterapkan dan punya dampak yang positif. Selain itu, mereka bisa mewujudkan sebuah ide menjadi sebuah layanan yang dapat bekerja dengan baik hanya dalam waktu 24 jam. Saat penjurian, para dewan juri juga mengalami kesulitan untuk memutuskan pemenang, karena karya-karya yang masuk shortlist sangat bagus,” papar Monica.

Adapun lima karya teknologi terbaik di GO-HACKATHON bisa diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum di https://github.com/GO-HACKATHON.

Kompetisi GO-HACKATHON diikuti oleh 415 tim dari berbagai kalangan, mulai siswa SMA, mahasiswa, hingga developer profesional yang berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Hampir 50 persen peserta berasal dari luar Jawa seperti Sumatera Utara, Bali, Gorontalo, Makassar, dan Kalimantan.

Dari 415 tim, 39 tim masuk ke dalam babak final, dan merealisasikan idenya dengan cara menulis code program dalam waktu 24 jam di Kantor GO-JEK.

Liputan Edi Triyono dari JakartaKita

Berita Terkait