STEI Ikut Wujudkan Kemandirian Dalam Teknologi Smart Card

smart cardSTEI (mewakili ITB) tergabung dalam Konsorsium Smart Card (Kartu Pintar) yang melibatkan Dewan Riset Nasional (DRN), empat perguruan tinggi serta lima perusahaan. Adapun 4 perguruan tinggi dalam konsorsium ini adalah ITB, Telkom University (Tel-U), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Sedangkan 5 perusahaan yang terlibat yaitu PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti), PT Xirka Silicon Technology, PT Data Aksara Matra (PT DAM), PT Inti Bangun Sejahtera (IBS), dan PT Versatile.

“Kerjasamanya yang harus kita tonjolkan, mudah-mudahan ini menjadi bagian dari langkah kita menuju kemandirian teknologi,” ujar Ketua Komisi Teknis Teknologi Informasi & Komunikasi Dewan Riset Nasional (DRN), Dr Ir Basuki Yusuf Iskandar, MA.

Kerjasama ini diresmikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman pada 9 Agustus 2016 lalu di Solo, Jawa Tengah. Penandantanganan Nota Kesepahaman ini diselenggarakan sebelum digelarnya Seminar Nasional bertema “Sinergi Pendidikan Tinggi, Riset dan Bisnis Melalui Inovasi untuk Penguatan Daya Saing Bangsa” sekaligus Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional tahun 2016 dan memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Hadir dalam acara ini antara lain Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof Muhamad Nasir, PhD, Akt., mantan presiden RI sekaligus penggagas Dewan Riset Nasional Prof BJ Habibie, Ketua Dewan Riset Nasional, Dr Ir Bambang Setiadi IPU, serta anggota Dewan Riset Daerah.

Pembentukan konsorsium ini diawali dengan pengembangan kartu pintar (Smart Card) yang sudah melalui berbagai pertemuan dan pembahasan yang difasilitasi oleh DRN. Hasilnya, antara lain komitmen setiap perguruan tinggi yang terlibat untuk menerapkan hasil prototipe smartcard ini dalam sistem pembelajaran di kampus. Smart Card ini nantinya dapat digunakan antara lain untuk mengakses data akademik, pembayaran di cafetaria atau kantin, kehadiran mahasiswa di kelas, pengelolaan ruang kuliah, akses ruangan, monitoring aktivitas kampus, serta penggunaan tempat menyimpan (locker) dan surat (mailbox).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Riset Nasional, Dr Ir Bambang Setiadi IPU mengatakan berdasarkan pada pengukuran yang pernah dilakukan tiga tahun lalu, diketahui bahwa kontribusi total faktor produksi (TFP) yaitu kualitas infrastruktur, sumber daya manusia, dan tata kelola (good governance) terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hanya 0,9 hingga 1,1 persen.“Karena inovasi dan teknologi adalah komponen TFP, maka membahas pentingnya inovasi dan teknologi sebagai faktor pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing terus menjadi fokus dan tantangan yang paling nyata saat ini,” katanya.

Sementara itu, Menristekdikti Prof Muhamad Nasir, PhD, Akt mengatakan saat ini penelitian di Indonesia tidak lagi berbasis pada aktivitas, tapi pada hasil. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penelitian di Indonesia. “Mari kita gelorakan inovasi,” katanya.

Penggagas Dewan Riset Nasional, BJ Habibie mengajak para peneliti muda di Indonesia untuk meneruskan jejak penelitian yang pernah digagas para peneliti terdahulu. “Karena hasil riset tidak hanya berlaku untuk satu generasi, tapi sambung-menyambung sehingga Anda tinggal melanjutkan,” ujar Habibie.

Berita Terkait