Kisah Alumni STEI Membangun Industri Elektronika  Rumah Tangga

QuantumRawonoNama Rawono Sosrodimulyo(EL74) bagi sebagian besar warga republik ini mungkin masih asing atau jarang terdengar. Namun, bagi komunitas industri peralatan rumah tangga, Rawono cukup terkenal, meski belum setenar Alim Markus, pendiri Maspion Group seka ligus pemilik tagline “cintailah pwoduk-pwoduk Indonesia” itu.

Namun, produk kompor gas elpiji yang dihasilkan Rawono, melalui PT Aditec Cakrawiyasa, kini semakin unjuk gigi dengan memosisikan diri pada peringkat kedua untuk pasar nasional. kompor gas tersebut dikuasai produk impor dan hampir tidak ada produk buatan lokal. Padahal, meski terkesan sepele, dalam pemikirannya, kompor gas yang jauh lebih efisien ketimbang kompor minyak tanah itu kurang dilirik masyarakat, terutama mereka yang dari kelas menengah ke bawah.

Bermula dari kegiatan mengamati fenomena ketiadaan produk lokal itulah Rawono kemudian berkeinginan untuk membuat produk kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut. Peluang yang dilihat saat itu adalah alat alat pendukung kebutuhan primer, yaitu kompor gas.

Dari sebuah garasi kecil, pada 1993, mulailah Rawono bersama tiga orang anggota timnya melakukan riset dengan pola reverse engineering— membalikkan proses yakni dengan membedah produk jadi kemudian menguraikan bagian demi bagian, hingga part paling kecil sekalipun, untuk kemudian ditiru kesemua bagian itu dan merakitnya sebagai produk jadi.

Part paling susah dari kompor gas, menurut alumnus Teknik Elektro ITB itu, adalah pemantik elektronik. Setelah melakukan uji coba produksi berkali-kali, pada 1995 mulailah dia memberanikan diri untuk membangun pabrik dan memproduksi dalam skala komersial sebanyak beberapa ratus unit.

Pemain utama kompor gas saat itu adalah merek Rinnai dan Hitachi, keduanya buatan Jepang, yang dijual ke pasar dengan harga relatif cukup mahal. Maka PT Aditec bertekad untuk memproduksi kompor gas— menggunakan merek Quantum— berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.

Karena faktor harga jual itulah merek Quantum berhasil ‘mencuri’ pangsa pasar dan mulai menjadi pilihan sejumlah ibu rumah tangga. Namun, untung tak dapat
diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika kegiatan produksi mulai bertambah marak sehubungan dengan meningkatnya permintaan, terjadilah bencana ekonomi.

Pada saat krisis moneter pada 1997-1998, nilai tukar dolar AS melonjak sehingga harga komporgas merek Jepang tidak bisa kurang dari Rp 1,5 juta per unit. Begitu pula kompor gas produksinya, yang biasanya dijual seharga Rp300.000-an per unit terpaksa dilonjakkan menjadi hingga Rp1,2 juta per unit.

Dengan sendirinya, permintaan pun meredup dan volume penjualan merosot hingga nyaris habis. Rawono pun memutar otak. Dia melakukan sejumlah modifikasi, termasuk mengganti pelat baja nirkarat dengan aluminium, sehingga faktor harga dapat ditekan.

Dengan kualitas yang bersaing, Quantum memproduksi kompor gas dengan harga relatif jauh lebih murah dari produk asal Jepang tadi. Untuk memastikan kualitas produk terjamin dan berkualitas, maka produk yang dihasilkan Aditec memenuhi SNI dan bersertifikasi ISO.

Pelan tapi pasti, kegiatan produksi Aditec mulai menggeliat kembali. Sambil terus menyempurnakan produk maupun sarana produksi, Rawono mulai memikirkan kemungkinan untuk dilaksanakannya rekayasa sosial untuk masyarakat pengguna kompor minyak tanah yang dianggapnya sebagi ‘terlalu mewah’ dalam hal penggunaan bahan bakar minyak tersebut.

“Kami pun membuat usulan kepada pemerintah agar masyarakat mengurangi atau bahkan tidak mengonsumsi lagi minyak tanah, mengingat nilai keekonomian bahan bakar jenis tersebut terlalu tinggi jika hanya untuk mendukung kegiatan masak-memasak. Karena, minyak tanah justru selevel dengan avtur—bahan bakar minyak untuk pesawat terbang—yang seharusnya bernilai jual tinggi,” tuturnya dalam suatu forum yang dihadiri sejumlah entrepreneur muda.

Gayung bersambut. Bagi Rawono, keputusan pemerintah itu ibarat durian runtuh karena perusahaan yang dikemudikannya kebagian pengadaan sebanyak 2,2 juta unit—dari total kebutuhan sekitar 50 juta unit kompor gas—yang dibagikan secara gratis kepada keluarga miskin dan hampir miskin di seluruh negeri ini. Padahal, kapasitas produksi tahunan Aditec biasanya ‘cuma› ratusan ribun unit per tahun.

Tentu saja berkah tersebut menimbulkan kepeningan tersendiri bagi dia bersama timnya. Untuk memenuhi pengadaan kompor gas satu mata tungku sebanyak 2,2 juta unit itu berarti harus meningkatkan kapasitas produksi berkali lipat. Namun, berkat kegigihan dan ketekunannya, kontrak tersebut pun terpenuhi.

Bahkan, karena kapasitas terpasang telanjur besar, maka apa yang bisa dilakukannya adalah mengefisienkan proses produksi serta terus menempuh berbagai modifikasi, baik material maupun fitur, serta menerapkan sejumlah simplifikasi—tanpa harus mengorbankan kemanfaatan (functionality)—agar tetap mampu menghadirkan produk berkualitas dengan harga relatif terjangkau.

DIVERSIFIKASI PRODUK

Hasilnya pun menggembirakan. Hingga kini, kompor gas merek Quantum menguasai sekitar 30% pangsa pasar kompor gas di Indonesia atau digunakan oleh sekitar 12 juta keluarga Indonesia.

Tidak hanya itu. Karena efisiensi yang dicapai pada sarana produksi ditambah dengan sejumlah langkah inovasi, maka diversifikasi produk pun tak terelakkan. Maka, selain menghasilkan kompor gas, Aditec kini juga memproduksi peralatan rumah tangga lainnya seperti regulator kompor gas, rice cooker, blender, dan kipas angin.

Selang regulator Quantum bahkan menjadi market leader dengan menguasai 58% pangsa pasar di Indonesia. Keberhasilan itu pun tercermin dari raihan nilai penjualan 2015 yang tidak kurang dari Rp700 miliar.

Menurut Rawono, sedikitnya terdapat lima rahasia kekuatan kompor gas dan selang regulator Quantum yang dipro duk – sinya. Pertama, kualitas produk. Produk yang dihasilkan kokoh, aman, berpenampilan menarik, serta terkesan modern.

Kedua, harga jual produk yang kompetitif. Ketiga, kegiatan promosi secara gencar dan rutin.

“Faktor keempat yang menjadikan produk kami dipilih konsumen adalah keberadaannya yang hingga mencapai seluruh pelosok Indonesia dan rahasia kelima tentu saja tersedianya layanan purnajual alias after sales service yang memberikan pelayanan prima sekaligus sebagai upaya kami untuk mengerti keinginan konsumen,” ungkapnya.

Inovasi pun dilakukannya secara terus menerus melalui divisi riset & pengembangan serta dari berbagai masukan konsumen. Dia memberikan contoh setelah program konversi penggunaan kompor gas, pasar Indonesia diserbu produk selang regulator palsu buatan China, yang menyebabkan terjadinya begitu banyak kasus kebocoran dan ledakan.

“Ketika kasus tersebut marak, saya sampai harus turun tangan melakukan riset untuk mencari penyebab kebocoran tersebut. Setelah melakukan pengukuran
dan perhitungan hingga 125.000 kali, akhirnya kami temukan letak kesalahan penyebab kebocoran yang dikarenakan kemiringan regulator. Pada akhirnya, masyarakat belajar untuk memilih produk yang aman, bukan hanya murah. Sejak itulah selang regulator buatan kami menjadi market leader,” ujar Rawono mengenang.

Jalur distribusi pun diperbaikinya dengan menempuh tiga strategi yaitu direct selling alias penjualan dari pintu ke pintu, menjalin kerja sama dengan distributor atau pihak ketiga, serta melalui pasar ritel modern yang tersebar di seluruh Indonesia. Tidak ketinggalan, di era digital ini, Aditec juga mempersiapkan pembukaan jalur distribusi baru yaitu melalui penjualan online.

Tidak hanya itu tentunya. Mereka terus berinovasi mengingat hal itu adalah kekuatan utama perusahaan. “Kami telah mengantungi 13 paten yang terdaftar di Indonesia. Misalnya untuk kompor gas, kami telah menciptakan desainn pelat tunggal yang menggunakan cetakan tunggal.

Juga, untuk efisiensi energi kompor gas kami, kami telah mencapai 68,9% atau jauh lebih tinggi dari pesaing kami. Teknologi yang kami patenkan menggunakan lebih sedikit gas, mengingat harga energi yang terus meningkat.”

Untuk masa depan, mereka berkeinginan untuk memperkenalkan kompor berbahan bakar terbarukan. Penelitian untuk menuju ke arah itu telah dilakukan untuk CPO dan etanol sebagai sumber bahan bakar kompor.

“Ini berarti kami dapat merespons dengan cepat perubahan dalam bahan bakar yang paling banyak digunakan, sesuai dengan kebijakan pemerintah mengenai energi.”

Simak pemaparan beliau disini:

Sumber : http://koran.bisnis.com/read/20160429/270/542913/beranda-insinyopreneur-meraih-pasar-via-rekayasa-sosial

Berita Terkait