EU Panel Seminar on Smart Cities: Pentingnya Peran Manusia untuk Kota Pintar

Perkembangan teknologi membuat konsep pinter tidak hanya diterapkan pada berbagai perangkat, tetapi juga pada berbagai sistem, salah satunya adalah konsep smart city. Konsep ini mengetengahkan sebuah tatanan kota cerdas yang dapat mengatur sumber daya yang dimilikinya, baik SDM maupun SDA, secara efisien dan efektif untuk mencapai high livability, kenyamanan, dan perkembangan berkelanjutan. Dengan menerapkan konsep ini, kualitas kehidupan manusia yang tinggal di suatu kota akan dapat menjadi lebih baik, tidak terkecuali di Indonesia.

Panel Seminar on Smart Cities yang diadakan pada Jumat (12/02/16) bertempat di Aula Barat ITB dari pukul 12.30-15.00 merupakan hasil kerja sama antara Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB dan delegasi Uni Eropa untuk Indonesia. Seminar ini menghadirkan Patrick Herman (Duta Besar Belgia), Michal Slivović (Duta Besar Slovakia), Johanna Brismar Skoog (Duta Besar Swedia), Andreas Karabaczek (Duta Besar Austria), Valerica Epure (Duta Besar Romania), dan Prof. Dr. Suhono Harso Supangkat, M.Eng (Inisiator Smart City ITB) selaku pembicara. Lebih dari 500 peserta dari berbagai institusi pendidikan datang menghadiri seminar ini.

Acara diawali dengan pidato pembukaan dari Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Guérend, dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA. “Secara sederhana, kota pintar adalah kota yang menggunakan teknologi terutama teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di dalamnya. ITB merupakan salah satu universitas di Indonesia yang terlibat secara aktif dalam pengembangan kota pintar di Indonesia. ITB berkontribusi melalui LPIK yang mendorong pengembangan konsep kota pintar yang mulai diimplementasikan di kota-kota Indonesia. Perubahan sebuah kota menjadi smart city memerlukan partisipasi dari masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah,” tutur Prof. Kadarsah.

Smart City di Negara Uni Eropa

Kelima duta besar yang hadir secara bergantian menerangkan konsep smart city yang sudah diterapkan di masing-masing negara, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Santi Novani, Ph.D. “Sebuah kota yang pintar haruslah menjadi sebuah kota yang kreatif, juga sebuah kota yang mendukung hak asasi manusia. Ketiga hal ini tidak bisa hadir tanpa satu dan lainnya,” ujar Duta Besar Belgia Patrick Herman. Duta Besar Slovakia Michal Slivović menerangkan jenis gedung dan perumahan pintar yang dibangun di Bratislava. Desain gedung menekankan penghematan energi dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dari para penghuninya.

Swedia menggunakan pendekatan quadruple helix dalam penerapan konsep smart city yang menunjukkan pentingnya hubungan antara masyarakat, institusi pendidikan, pihak swasta, serta pemerintah. Tanpa adanya integrasi antara keempat pihak ini, maka konsep smart citytidak akan dapat tereksekusi dengan baik. Beberapa contoh teknologi yang diterapkan adalah ecological sustainability, smart heating and cooling system, waste to energy, serta transporting household waste using vacuum suction. Swedia berhasil menurunkan emisi karbon sebanyak 22% dan meningkatkan PDB sebesar 58% dalam periode 1995-2013.

Tantangan Smart City di Indonesia

“Menurut data PBB, lebih dari 60% populasi tinggal di kota, dan kebutuhan akan energi, manajemen limbah, terus meningkat. Oleh karena itu, akan dibutuhkan cara-cara untuk memastikan bahwa orang-orang merasa aman, nyaman, dan sustainable,” tutur Prof. Suhono. “Beberapa tantangan yang dihadapi oleh Indonesia antara lain adalah bagaimana cara untuk (1) Meningkatkan mobilitas, (2) Suplai air dan manajemen limbah, (3) Konversi energi, (4) Membuat sebuah negara aman, sehat, dansecure, serta (5) Membangun infrastruktur sosial dan ekonomi,” lanjutnya.

 

Sumber : http://www.itb.ac.id/news/5054.xhtml

Berita Terkait