Sharon Loh Teknik Informatika STEI-ITB Mendapat AIMS Short Stay Program 2014 di TUAT Japan

Foto-1

Muhammad Alifa – Irfan Nurhadi – Sharon Loh – Hilfi Amri

Pada bulan Maret 2014 lalu, saya Sharon Loh (Teknik Informatika ITB 2010), mendapat kesempatan untuk mengikuti AIMS Short Stay Program yang diselenggarakan oleh TUAT (Tokyo University of Agriculture and Technology) di Tokyo, Jepang. AIMS Short Stay Program (atau yang dikenal dengan ASSP) 2014 dilaksanakan selama 2 minggu dari 2 – 15 Maret 2014. Program ASSP 2014 ini bertujuan untuk memperkenalkan aktivitas akademik di universitas – universitas Jepang serta kehidupan serta budaya dan tradisi Jepang kepada mahasiswa di negara ASEAN.

Peserta ASSP 2014 berjumlah 20 orang dan berasal dari Malaysia (UPM, UTM, MJIIT) & Indonesia (ITB, IPB, UGM). Saya termasuk salah satu orang yang terpilih untuk mewakili ITB bersama dengan 3 teman lainnya yaitu Muhammad Alifa Farhan (Manajemen Teknik Industri ITB 2010), Irfan Nurhadi (Teknik Lingkungan ITB 2010), dan Hilfi Amri (Teknik Lingkungan ITB 2010).

Foto-2

Selama 2 minggu program berlangsung, kami mengikuti beberapa kelas di TUAT seperti kelas Bahasa Jepang, kelas Intercultural Communication, Introduction to Artifical Intelligence, Japanese Traditions and Climate, Japanese Culture, serta Learning and Action for Sustainibility. Selain menghadiri kelas, kami juga memiliki kesempatan untuk melakukan studi banding dengan mengunjungi laboratorium – laboratorium yang ada pada TUAT, yaitu antara lain Environmental and Natural Resources Sciences Lab, Biological Production Lab, Chemical Engineering Lab, Mechanical Systems Lab, Computer and Information Sciences Lab, Bio-Applications and Systems Engineering Lab, dan Plant Factory Lab.

Saya kagum saat mengunjungi laboratorium yang ada di TUAT. Banyak sekali research yang dilakukan pada masing – masing laboratorium dengan bidang – bidang yang memang sangat spesifik. Dan walaupun research – research yang mereka lakukan sudah pernah dilakukan oleh negara lain beberapa tahun sebelumnya, mereka tetap melakukan research itu agar mereka tidak bergantung pada negara lain. Learning spirit inilah yang membuat Jepang menjadi negara yang maju dan independen, menurut saya.

 

Selama tinggal di Jepang, kami juga banyak berinteraksi dengan peduduk lokal sehingga kami sedikit banyak mempelajari kebiasaan, tata krama, dan kebudayaan yang mereka bawa dalam kehidupan sehari – hari. Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah cara mereka berkomunikasi antar satu sama lain. Komunikasi yang mereka lakukan bersifat 2 arah, yaitu jika satu orang berbicara, yang lain harus mendengar dan harus memberi respons sehingga komunikasi tidak terputus. Hal unik lainnya adalah kebiasaan orang Jepang untuk melakukan ‘bowing’ (membungkuk) untuk memberi salam, meminta maaf, dan sebagainya. Derajat bungkukan pun berbeda – beda sesuai dengan situasi pada saat itu.

Namun ada satu hal penting yang patut kita tiru dari kebiasaan orang Jepang, yaitu ketepatan waktu. Orang Jepang sangat menghargai ketepatan waktu. Dengan demikian, seluruh hal yang direncanakan dapat berjalan sesuai dengan rencana awal. Biasanya, orang Jepang akan hadir 5 menit sebelum jadwal kegiatan dimulai. Hal ini berlaku juga untuk kegiatan –kegiatan informal seperti menghadiri pesta.

Selain mengikuti kegiatan akademik, kami juga diberi kesempatan untuk jalan – jalan melihat keindahan Jepang. Kami diberi satu hari free time, dan 2 hari tour yang dibimbing oleh Prof. dari TUAT. Pada saat free time, saya berjalan – jalan bersama teman – teman lain dengan menggunakan bus dan kereta ke downtown Tokyo. Walaupun diantara kami tidak ada yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang, kami belajar bahwa ternyata bahasa tubuh adalah bahasa yang universal, bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain tanpa harus berbicara dengan bahasa yang sama. Mungkin itu adalah point dari jalan – jalan itu sendiri, yaitu untuk berinteraksi dengan orang, no matter how different you are.

 

foto-3

Pada hari terakhir, kami melakukan presentasi mengenai apa yang kami peroleh dan pelajari selama tinggal di Jepang.

Saya sangat bersyukur karena telah dipercaya untuk mewakili ITB dalam mengikuti program ASSP 2014 ini. Banyak hal yang saya pelajari dari suatu perbedaan budaya. Satu hal yang selalu saya ingat dari hasil pembelajaran saya adalah walaupun Jepang adalah negara yang modern dengan teknologi yang maju, mereka tidak serta merta melupakan kebudayaan asli mereka. Justru, kebudayaan tetap dijaga dan teknologi yang dikembangkan mendukung kebudayaan dan kebiasaan mereka. Orang Jepang juga tidak mudah menyerah dan tetap terus belajar walaupun negara mereka sudah jauh mendahului negara – negara lain. Semangat itulah yang harus kita bawa dan adaptasikan di negara kita. Semangat itulah yang nantinya dapat membawa perubahan untuk Indonesia.

Thank you, TUAT for the unforgetable experience! I hope there will be more lucky students from ITB next year.

 

Sharon Loh (13510086)
lohh.sharon@gmail.com
Teknik Informatika
Institut Teknologi Bandung

 

 

Berita Terkait