Mandiri dengan Albatros

Sebuah kado bagi para penderita cacat motorik. Membantu komunikasi, aktualisasi diri, dan perbaikan kualitas hidup

Sejak berusia tujuh bulan, Mayang Yudhistea divonis menderita cerebral palsy. Penyakit yang menghambat perkembangan motorik ini membuat sebagian fungsi saraf terganggu. Otot-otot terasa kaku, bahkan lidah terasa kelu. Yudhis, begitu dia dipanggil, kini terbaring lumpuh. Berbicara pun sulit. “Ini akibat kecelakaan saat mengandung,” kata sang ibu, Theodora Pryanti, pekan lalu.

Ibu dan remaja 18 tahun ini tak patah arang. Sang ibu, yang biasa disapa Hapi, mengajari Yudhis mengetik pesan pendek. Caranya memang tidak mudah. Dia harus bersusah payah memijit tombol kecil di telepon seluler menggunakan tonjolan persendian di tangan kiri-di antara lengan dan jari-dengan cara terkepal.

Meski butuh waktu superlama, Yudhis senang lantaran mampu mengutarakan maksud hatinya. Terkadang sebuah puisi dan cerita pendek lahir dari keterbatasannya itu. Pesan pendek itulah yang menjadi media komunikasi Yudhis.

Kisah tentang Yudhis yang berasal dari Yogyakarta itu ternyata terdengar sampai ke telinga para peneliti di Institut Teknologi Bandung. Kemampuan Yudhis bersusah payah merangkai satu per satu huruf menjadi kata dan kalimat lewat pesan pendek sangat meng-inspirasi tim dari Kelompok Keahlian Teknik Biomedika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

“Teknologi harus mempermudah ke-terbatasan manusia,” kata Ketua Kelompok Keahlian Teknik Biomedika Profesor Tati Latifah Rajab Mengko. Bukan hanya komunikasi lewat pesan pendek, kata Tati, akses ke komputer dan Internet dinilai bisa mendukung produktivitas Yudhis sehari-hari.

Yudhis bukan satu-satunya pengidap cacat motorik. Data Ikatan Dokter Indonesia pada 2007 menunjukkan jumlah penderita kecacatan motorik mencapai 2,5 juta orang atau setara dengan 37 persen dari total penderita cacat. Sebagian besar menderita cacat motorik kongenital (sejak lahir) akibat berbagai penyakit bawaan, seperti cerebral palsy, spina bifida, distrofi muskular, dan poliomielitis.

Pada akhir 2009, lahirlah Albatros atau alat bantu komunikasi dan akses komputer bagi penderita cacat motorik. Pada tahun yang sama, Albatros berhasil menyabet penghargaan sebagai salah satu inovasi Indonesia dalam kategori teknologi komunikasi dan informasi dari Kementerian Riset dan Teknologi.

Menurut Ketua Peneliti Albatros, Dr. Adi Indrayanto, hambatan penderita cacat motorik lebih disebabkan oleh ketiadaan sarana pendukung yang sesuai. “Pengguna cacat motorik kesulitan mengakses teknologi,” katanya.

Albatros, kata Adi, menyediakan kemungkinan melakukan berbagai kegiatan, seperti komunikasi berbasis teks atau simbol, interaksi sosial melalui pembentukan komunitas di dunia maya, akses informasi serta konten pendidikan dan profesional, juga pengolahan teks, grafis, atau gambar dan bunyi.

Melalui cara ini, penderita cacat motorik tidak saja dapat berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya, tapi juga memiliki peluang lebih untuk menjadi mandiri secara ekonomi dengan pilihan profesi yang lebih beragam. Komputer dan Internet juga merupakan basis yang sangat terbuka bagi pengembangan berbagai fungsionalitas tambahan di masa depan.

Albatros dilengkapi teknologi berbasis sumber terbuka yang memudahkan pengguna mengakses sumber informasi di komputer lewat program peramban, pesan seketika, dan surat elektronik. Semua perangkat untuk memasukkan data ke komputer, kata Adi, disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tapi tidak semudah itu. Pengembangan peranti keras dan peranti lunak harus dilakukan secara berkesinambungan.

Pada kasus Yudhis, misalnya, Albatros menyediakan alat khusus di komputer sebagai pengganti papan ketik dan tetikus. Alat khusus tersebut terdiri atas lima tombol: empat tombol navigasi dan satu tombol eksekusi. Tombol-tombol dalam Albatros berfungsi untuk mencari dan memilih huruf atau angka yang terpampang di layar komputer.

Untuk akses ke komputer dan Internet, Albatros menggunakan sistem operasi Ubuntu dan Gnome-based Linux Distro. Program ini memungkinkan pengembang memodifikasi alat khusus yang didasari gerakan tangan, tubuh, muka, hidung, atau mata.

Adi mencontohkan, jika pengguna hanya bisa menggerakkan mata, alat bantu yang dikembangkan difokuskan pada kemampuan bagian mata. Misalnya, kedipan mata digunakan untuk pengganti klik laiknya pada tetikus. “Intinya hanya ada tombol navigasi dan eksekusi,” katanya.

Desain Albatros dibuat agar memudahkan orang seperti Yudhis. Selain terdiri atas layar monitor, Albatros didukung meja bantu yang bisa dipasang secara mudah bagi penderita yang harus selalu terbaring. “Harus nyaman, ringkas, dan portabel,” katanya. Desain Albatros melibatkan para peneliti dari Desain Produk ITB. Sedikitnya dibutuhkan waktu satu tahun untuk membangun Albatros milik Yudhis.

Yudhis sudah menggunakan Albatros sejak akhir tahun lalu. Ketika itu, Yudhis datang langsung ke ITB untuk menerima hadiah Albatros dari para peneliti ITB. “Saya sampai merinding melihat Yudhis sesenang itu,” kata Tati.

Tati ingat, waktu itu Yudhis duduk dengan kursi rodanya ditemani kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Meski ia tak bisa berkomunikasi secara verbal, Tati menangkap semangat dalam hati Yudhis untuk selalu maju. Tati berharap kelak Yudhis mampu berdikari dengan kemampuannya dalam bidang karya sastra.

Sayang, kemampuan Yudhis beradaptasi dengan Albatros masih membutuhkan waktu panjang. “Harus terus berlatih lagi,” kata Hapi. Sampai kini, Yudhis belum lancar menggunakan tombol-tombol yang tersedia dalam Albatros untuk berselancar di Internet. “Butuh waktu, Yudhis terus berusaha,” ujarnya.

Adi menjelaskan Albatros cocok untuk para penderita keterbatasan motorik sejak usia dini. Alasannya, semakin terbiasa seseorang menggunakan alat tertentu, refleksnya akan terasah. Contohnya saat pengguna telepon seluler mengetik pesan pendek tanpa melihat tombol. Mereka bisa mengetik pesan dengan cepat dan tepat. “Begitu pula dengan Albatros. Makin terbiasa makin mudah,” katanya.

Bagi penderita cacat motorik pada usia sekolah, Albatros memberikan peluang mengakses pendidikan secara utuh. Para penderita keterbatasan motorik tidak perlu khawatir dalam mengembangkan keterampilan yang berguna untuk mata pencariannya di masa depan. Keunggulan Albatros meliputi perbaikan dalam membantu pembentukan kemandirian, sarana aktualisasi diri, dan media interaksi sosial.

Peneliti dari ITB masih terus mengembangkan Albatros agar kian sempurna. Alat bantu akses komputer dan Internet pada masa datang tidak saja khusus bagi penderita cacat motorik. Orang normal pun bisa menggunakannya untuk mempermudah mengakses komputer dengan efisien.

Bagaimana caranya? Adi menjelaskan peneliti ITB masih mengembangkan akses komputer dan Internet dengan perintah otak. “Apa yang dipikirkan otak bisa langsung dieksekusi menjadi sebuah perintah di komputer.”

Cara kerjanya mirip Albatros milik Yudhis. Bedanya terletak pada alat bantu yang dipasang di tubuh manusia. Alat bantu itu akan dipasang di sekitar kepala dengan tujuan menangkap gelombang listrik otak dalam mengirimkan sebuah perintah. “Sangat kompleks,” ujar Adi.

ITB menargetkan Albatros yang diperintah lewat otak bisa direalisasi tahun ini.

Sumber: Rudy Prasetyo, Bernada Rurit (Yogyakarta)
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/29/TI/mbm.20100329.TI133091.id.html

Berita Terkait