{"id":5548,"date":"2016-05-02T12:21:28","date_gmt":"2016-05-02T05:21:28","guid":{"rendered":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/?p=5548"},"modified":"2016-05-02T12:21:28","modified_gmt":"2016-05-02T05:21:28","slug":"kisah-alumni-stei-membangun-industri-elektronika-rumah-tangga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/kisah-alumni-stei-membangun-industri-elektronika-rumah-tangga\/","title":{"rendered":"Kisah Alumni STEI Membangun Industri Elektronika\u00a0 Rumah Tangga"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5549 alignleft\" src=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/QuantumRawono-e1462165833465.jpg\" alt=\"QuantumRawono\" width=\"300\" height=\"169\" \/>Nama Rawono Sosrodimulyo(EL74) bagi sebagian besar warga republik ini mungkin masih asing atau jarang terdengar. Namun, bagi komunitas industri peralatan rumah tangga, Rawono cukup terkenal, meski belum setenar Alim Markus, pendiri Maspion Group seka ligus pemilik tagline \u201ccintailah pwoduk-pwoduk Indonesia\u201d itu.<\/p>\n<p>Namun, produk kompor gas\u00a0elpiji yang dihasilkan Rawono,\u00a0melalui PT Aditec Cakrawiyasa,\u00a0kini semakin unjuk gigi dengan\u00a0memosisikan diri pada peringkat\u00a0kedua untuk pasar nasional. kompor gas tersebut dikuasai produk impor dan hampir tidak ada produk buatan lokal. Padahal, meski terkesan sepele, dalam pemikirannya, kompor gas yang jauh lebih efisien ketimbang kompor minyak tanah itu kurang dilirik masyarakat, terutama mereka yang dari kelas menengah ke bawah.<\/p>\n<p>Bermula dari kegiatan mengamati\u00a0fenomena ketiadaan produk lokal\u00a0itulah Rawono kemudian berkeinginan\u00a0untuk membuat produk\u00a0kebutuhan primer yang dibutuhkan\u00a0oleh masyarakat tersebut. Peluang\u00a0yang dilihat saat itu adalah alat alat\u00a0pendukung kebutuhan primer,\u00a0yaitu kompor gas.<\/p>\n<p>Dari sebuah garasi kecil,\u00a0pada 1993, mulailah Rawono\u00a0bersama tiga orang anggota\u00a0timnya melakukan riset dengan\u00a0pola reverse engineering\u2014\u00a0membalikkan proses yakni dengan\u00a0membedah produk jadi kemudian\u00a0menguraikan bagian demi bagian,\u00a0hingga part paling kecil sekalipun,\u00a0untuk kemudian ditiru kesemua\u00a0bagian itu dan merakitnya sebagai\u00a0produk jadi.<\/p>\n<p>Part paling susah dari kompor\u00a0gas, menurut alumnus Teknik\u00a0Elektro ITB itu, adalah pemantik\u00a0elektronik. Setelah melakukan uji\u00a0coba produksi berkali-kali, pada\u00a01995 mulailah dia memberanikan\u00a0diri untuk membangun pabrik dan\u00a0memproduksi dalam skala komersial\u00a0sebanyak beberapa ratus unit.<\/p>\n<p>Pemain utama kompor gas\u00a0saat itu adalah merek Rinnai\u00a0dan Hitachi, keduanya buatan\u00a0Jepang, yang dijual ke pasar\u00a0dengan harga relatif cukup\u00a0mahal. Maka PT Aditec bertekad\u00a0untuk memproduksi kompor gas\u2014\u00a0menggunakan merek Quantum\u2014\u00a0berkualitas dengan harga yang\u00a0terjangkau oleh masyarakat.<\/p>\n<p>Karena faktor harga jual itulah\u00a0merek Quantum berhasil \u2018mencuri\u2019\u00a0pangsa pasar dan mulai menjadi\u00a0pilihan sejumlah ibu rumah\u00a0tangga. Namun, untung tak dapat<br \/>\ndiraih, malang tak dapat ditolak.\u00a0Ketika kegiatan produksi mulai\u00a0bertambah marak sehubungan\u00a0dengan meningkatnya permintaan,\u00a0terjadilah bencana ekonomi.<\/p>\n<p>Pada saat krisis moneter pada\u00a01997-1998, nilai tukar dolar AS\u00a0melonjak sehingga harga komporgas merek Jepang tidak bisa kurang\u00a0dari Rp 1,5 juta per unit. Begitu\u00a0pula kompor gas produksinya, yang\u00a0biasanya dijual seharga Rp300.000-an per unit terpaksa dilonjakkan\u00a0menjadi hingga Rp1,2 juta per unit.<\/p>\n<p>Dengan sendirinya, permintaan pun\u00a0meredup dan volume penjualan\u00a0merosot hingga nyaris habis.\u00a0Rawono pun memutar otak. Dia\u00a0melakukan sejumlah modifikasi,\u00a0termasuk mengganti pelat baja\u00a0nirkarat dengan aluminium,\u00a0sehingga faktor harga dapat\u00a0ditekan.<\/p>\n<p>Dengan kualitas yang\u00a0bersaing, Quantum memproduksi\u00a0kompor gas dengan harga relatif\u00a0jauh lebih murah dari produk\u00a0asal Jepang tadi. Untuk memastikan\u00a0kualitas produk terjamin dan\u00a0berkualitas, maka produk yang\u00a0dihasilkan Aditec memenuhi SNI\u00a0dan bersertifikasi ISO.<\/p>\n<p>Pelan tapi pasti, kegiatan\u00a0produksi Aditec mulai\u00a0menggeliat kembali. Sambil terus\u00a0menyempurnakan produk maupun\u00a0sarana produksi, Rawono mulai\u00a0memikirkan kemungkinan untuk\u00a0dilaksanakannya rekayasa sosial\u00a0untuk masyarakat pengguna\u00a0kompor minyak tanah yang\u00a0dianggapnya sebagi \u2018terlalu mewah\u2019\u00a0dalam hal penggunaan bahan bakar\u00a0minyak tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKami pun membuat usulan\u00a0kepada pemerintah agar\u00a0masyarakat mengurangi atau\u00a0bahkan tidak mengonsumsi lagi\u00a0minyak tanah, mengingat nilai\u00a0keekonomian bahan bakar jenis\u00a0tersebut terlalu tinggi jika hanya\u00a0untuk mendukung kegiatan masak-memasak. Karena, minyak tanah\u00a0justru selevel dengan avtur\u2014bahan\u00a0bakar minyak untuk pesawat\u00a0terbang\u2014yang seharusnya bernilai\u00a0jual tinggi,\u201d tuturnya dalam suatu forum yang dihadiri sejumlah\u00a0entrepreneur muda.<\/p>\n<p>Gayung bersambut. Bagi Rawono,\u00a0keputusan pemerintah itu ibarat\u00a0durian runtuh karena perusahaan\u00a0yang dikemudikannya kebagian\u00a0pengadaan sebanyak 2,2 juta\u00a0unit\u2014dari total kebutuhan sekitar\u00a050 juta unit kompor gas\u2014yang dibagikan secara gratis kepada\u00a0keluarga miskin dan hampir miskin\u00a0di seluruh negeri ini. Padahal,\u00a0kapasitas produksi tahunan Aditec\u00a0biasanya \u2018cuma\u203a ratusan ribun unit\u00a0per tahun.<\/p>\n<p>Tentu saja berkah tersebut\u00a0menimbulkan kepeningan\u00a0tersendiri bagi dia bersama timnya.\u00a0Untuk memenuhi pengadaan\u00a0kompor gas satu mata tungku\u00a0sebanyak 2,2 juta unit itu berarti\u00a0harus meningkatkan kapasitas\u00a0produksi berkali lipat. Namun,\u00a0berkat kegigihan dan ketekunannya,\u00a0kontrak tersebut pun\u00a0terpenuhi.<\/p>\n<p>Bahkan, karena kapasitas\u00a0terpasang telanjur besar, maka\u00a0apa yang bisa dilakukannya\u00a0adalah mengefisienkan proses\u00a0produksi serta terus menempuh\u00a0berbagai modifikasi, baik material\u00a0maupun fitur, serta menerapkan\u00a0sejumlah simplifikasi\u2014tanpa\u00a0harus mengorbankan kemanfaatan\u00a0(functionality)\u2014agar tetap mampu\u00a0menghadirkan produk berkualitas\u00a0dengan harga relatif terjangkau.<\/p>\n<p>DIVERSIFIKASI PRODUK<\/p>\n<p>Hasilnya pun menggembirakan.\u00a0Hingga kini, kompor gas merek\u00a0Quantum menguasai sekitar\u00a030% pangsa pasar kompor gas di\u00a0Indonesia atau digunakan oleh\u00a0sekitar 12 juta keluarga Indonesia.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu. Karena efisiensi\u00a0yang dicapai pada sarana produksi\u00a0ditambah dengan sejumlah langkah\u00a0inovasi, maka diversifikasi produk\u00a0pun tak terelakkan.\u00a0Maka, selain menghasilkan\u00a0kompor gas, Aditec kini juga memproduksi\u00a0peralatan rumah tangga\u00a0lainnya seperti regulator kompor\u00a0gas, rice cooker, blender, dan\u00a0kipas angin.<\/p>\n<p>Selang regulator\u00a0Quantum bahkan menjadi market\u00a0leader dengan menguasai 58%\u00a0pangsa pasar di Indonesia.\u00a0Keberhasilan itu pun tercermin dari\u00a0raihan nilai penjualan 2015 yang\u00a0tidak kurang dari Rp700 miliar.<\/p>\n<p>Menurut Rawono, sedikitnya\u00a0terdapat lima rahasia kekuatan\u00a0kompor gas dan selang regulator Quantum yang dipro duk &#8211;\u00a0sinya. Pertama, kualitas produk.\u00a0Produk yang dihasilkan kokoh,\u00a0aman, berpenampilan menarik,\u00a0serta terkesan modern.<\/p>\n<p>Kedua,\u00a0harga jual produk yang kompetitif. Ketiga, kegiatan promosi secara\u00a0gencar dan rutin.<\/p>\n<p>\u201cFaktor keempat yang\u00a0menjadikan produk kami\u00a0dipilih konsumen adalah\u00a0keberadaannya yang hingga\u00a0mencapai seluruh pelosok\u00a0Indonesia dan rahasia kelima tentu\u00a0saja tersedianya layanan purnajual\u00a0alias after sales service yang\u00a0memberikan pelayanan prima\u00a0sekaligus sebagai upaya kami\u00a0untuk mengerti keinginan\u00a0konsumen,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Inovasi pun dilakukannya\u00a0secara terus menerus melalui divisi\u00a0riset &amp; pengembangan serta dari\u00a0berbagai masukan konsumen. Dia\u00a0memberikan contoh setelah program\u00a0konversi penggunaan kompor gas,\u00a0pasar Indonesia diserbu produk\u00a0selang regulator palsu buatan China,\u00a0yang menyebabkan terjadinya begitu\u00a0banyak kasus kebocoran dan ledakan.<\/p>\n<p>\u201cKetika kasus tersebut marak,\u00a0saya sampai harus turun\u00a0tangan melakukan riset untuk\u00a0mencari penyebab kebocoran\u00a0tersebut. Setelah melakukan pengukuran<br \/>\ndan perhitungan hingga\u00a0125.000 kali, akhirnya kami\u00a0temukan letak kesalahan penyebab\u00a0kebocoran yang dikarenakan\u00a0kemiringan regulator. Pada\u00a0akhirnya, masyarakat belajar\u00a0untuk memilih produk yang\u00a0aman, bukan hanya murah. Sejak\u00a0itulah selang regulator buatan\u00a0kami menjadi market leader,\u201d ujar\u00a0Rawono mengenang.<\/p>\n<p>Jalur distribusi pun diperbaikinya\u00a0dengan menempuh tiga strategi\u00a0yaitu direct selling alias penjualan\u00a0dari pintu ke pintu, menjalin kerja\u00a0sama dengan distributor atau pihak\u00a0ketiga, serta melalui pasar ritel\u00a0modern yang tersebar di seluruh\u00a0Indonesia. Tidak ketinggalan,\u00a0di era digital ini, Aditec juga\u00a0mempersiapkan pembukaan\u00a0jalur distribusi baru yaitu melalui\u00a0penjualan online.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu tentunya.\u00a0Mereka terus berinovasi mengingat\u00a0hal itu adalah kekuatan utama\u00a0perusahaan. \u201cKami telah mengantungi\u00a013 paten yang terdaftar di\u00a0Indonesia. Misalnya untuk kompor\u00a0gas, kami telah menciptakan desainn\u00a0pelat tunggal yang menggunakan\u00a0cetakan tunggal.<\/p>\n<p>Juga, untuk efisiensi energi\u00a0kompor gas kami, kami telah\u00a0mencapai 68,9% atau jauh lebih\u00a0tinggi dari pesaing kami. Teknologi\u00a0yang kami patenkan menggunakan\u00a0lebih sedikit gas, mengingat harga\u00a0energi yang terus meningkat.\u201d<\/p>\n<p>Untuk masa depan,\u00a0mereka berkeinginan untuk\u00a0memperkenalkan kompor berbahan\u00a0bakar terbarukan. Penelitian untuk menuju ke arah itu telah dilakukan untuk CPO dan etanol sebagai sumber bahan bakar kompor.<\/p>\n<p>\u201cIni berarti kami dapat merespons dengan cepat perubahan dalam bahan bakar yang paling banyak digunakan, sesuai dengan kebijakan pemerintah mengenai energi.\u201d<\/p>\n<p>Simak pemaparan beliau disini:<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/KKAIushqp2Y\" width=\"420\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>Source:\u00a0<a href=\"http:\/\/koran.bisnis.com\/read\/20160429\/270\/542913\/beranda-insinyopreneur-meraih-pasar-via-rekayasa-sosial\">http:\/\/koran.bisnis.com\/read\/20160429\/270\/542913\/beranda-insinyopreneur-meraih-pasar-via-rekayasa-sosial<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nama Rawono Sosrodimulyo(EL74) bagi sebagian besar warga republik ini mungkin masih asing atau jarang terdengar. Namun, bagi komunitas industri peralatan rumah tangga, Rawono cukup terkenal, meski belum setenar Alim Markus, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5549,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[244,270,239],"tags":[],"class_list":["post-5548","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-alumni-subjek","category-berita","category-prestasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5548","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5548"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5548\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5549"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5548"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5548"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5548"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}