{"id":1546,"date":"2011-06-24T09:16:49","date_gmt":"2011-06-24T09:16:49","guid":{"rendered":"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/?p=1546"},"modified":"2011-11-10T02:01:09","modified_gmt":"2011-11-10T02:01:09","slug":"kisah-alumni-elektro-menjadi-pengajar-muda-desa-indong-3-%e2%80%9cpak-adi-jangan-pergi%e2%80%a6%e2%80%9d","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/kisah-alumni-elektro-menjadi-pengajar-muda-desa-indong-3-%e2%80%9cpak-adi-jangan-pergi%e2%80%a6%e2%80%9d\/","title":{"rendered":"Kisah Alumni Elektro menjadi Pengajar Muda Desa Indong (3) \u201cPak Adi Jangan Pergi\u2026\u201d"},"content":{"rendered":"<p><em>Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI &#8211;   ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya.   Artikel terbagi &#8211; bagi menjadi 4 bagian bercerita dari awal bagaimana bisa menjadi salah satu peserta Indonesia Mengajar sampai pengalaman yang dilalui bersama anak &#8211; anak di Desa Indong. Tentunya STEI sangat bangga ada salah satu alumni yang bisa memberikan   pengabdiannya untuk bangsa ini, semoga tulisan ini bisa menjadi   inspirasi bagi siapapun yang membacanya. (sumber : <a href=\"http:\/\/bit.ly\/j8FUAh\" target=\"_blank\">Kompasiana<\/a>)<\/em><\/p>\n<p>Menuntut ilmu  sampai ke luar negeri atau bekerja di perusahaan besar dengan gaji  tinggi barangkali tak pernah terbersit di benak anak-anak desa Indong.  Hidup dalam akses informasi yang serba terbatas di sebuah pulau  terpencil, secara langsung atau tidak, mempersempit ruang imajinasi  dalam memilih cita-cita. Adi mencoba memperluas wawasan mereka dengan  memperkenalkan sebuah benda bernama \u201censiklopedia\u201d.<\/p>\n<p>Murid-murid  Adi kebanyakan adalah anak petani. Di desa Indong, mereka tak banyak  mengenal profesi lain diluar yang bisa ditemui di sana, seperti petani,  nelayan, bidan, atau yang dianggap paling megah: PNS.\u201dMereka pasti  maunya (jadi) itu-itu saja,\u201d kata Adi. Bahkan kadang-kadang cita-cita  anak-anak didiknya tak merujuk pada sebuah profesi, misalnya ingin  memiliki kapal motor atau <em>speed boat<\/em>. Apapun keinginan mereka,  Adi berupaya menanamkan semangat di benak masing-masing anak. Ia sering  menyampaikan pesan kepada mereka.\u201dKalau mau jadi dokter atau PNS harus  lulus SD, SMP, SMA, lalu kuliah. Kalau mau punya <em>speed boat<\/em>, kalian harus punya uang. Bagaimana untuk punya uang? Harus kerja. Untuk cari kerja, kalian harus lulus sekolah,\u201d ungkap Adi.<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-1550\" title=\"1308764293882158699\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308764293882158699-300x246.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"246\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308764293882158699-300x246.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308764293882158699.jpg 732w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-1551 alignnone\" title=\"1308764058407183214\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308764058407183214-300x250.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"250\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308764058407183214-300x250.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308764058407183214.jpg 616w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Adi  menyadari bahwa pengetahuan terhadap pilihan profesi masa depan yang  dimiliki anak-anak di sana masih begitu terbatas. Tak bisa dipungkiri,  mereka ingin menjadi PNS atau dokter, tidak selalu karena benar-benar  ingin, tetapi\u00a0 \u201chanya\u201d itulah sedikit profesi yang mereka tahu. Dari  situ, perlahan-lahan Adi juga mencoba memperluas cakrawala wawasan  anak-anak SD Indong. Ia kerap membawa ensiklopedia dan menyuruh  murid-muridnya membaca buku itu. Adi melanjutkan apa yang sering ia  katakan kepada anak-anak,\u201d Nanti kalau sudah besar, kalian akan lihat  apa-apa yang ada di dunia ini. tidak cuma jadi dokter, tentara, atau  polisi. Ada juga pekerjaan-pekerjaan seperti astronot, ilmuwan,  arkeolog, dan lain-lain.\u201d Ensiklopedia dan paparan Adi itu mulai  melahirkan pertanyaan demi pertanyaan di benak anak-anak.\u201cMereka mulai  berpikir dan bertanya-tanya apa yang mereka mau. Akhirnya sekarang ada  anak yang cita-citanya jadi astronot. Dan dia tulis \u2018Cita-Cita: Jadi Astronot\u2019. Saya bangga setengah mati,\u201d tutur Adi bungah.<\/p>\n<p><strong>Tenggang rasa antarsuku<\/strong><\/p>\n<p>Selain  memperluas wawasan, Adi juga terus berusaha memperkuat nilai-nilai  tenggang rasa dan toleransi antarsuku serta antaragama kepada  murid-muridnya. Maklum saja, ini masih menjadi isu yang sensitif di  sana. Jika ada anak desa sebelah yang datang, misalnya, suasana tegang  sering kali tak bisa dicegah. Adi paham isu ini tak bisa diselesaikan  dengan jalan pintas. Ketegangan yang tercipta diantara anak-anak  sebenarnya juga \u201cturunan\u201d dari generasi orang tua mereka. Adi memberikan  gambaran,\u201dContoh soal saya bilang,\u2019Fikri anak desa tetangga datang mau  main bola. Kita harus\u2026 a. pukul, b. usir, c. main bola bersama, d.  olok-olok.\u2019 Ya kamu <em>enggak<\/em> kaget kalau <em>enggak<\/em> ada (anak) yang jawab main bola bersama.\u201d<\/p>\n<p>Menghadapi  hal di atas, Adi terus mencoba memberi pengertian yang benar kepada  murid-muridnya. Selain itu, ia juga melakukan tindakan nyata dengan  mengundang anak desa sebelah main bola bersama. Kebetulan di desa  tersebut ada juga rekan Adi sesama pengajar muda yang bertugas. Bahkan  usai ujian terima raport, Adi berencana mengajak anak-anak didiknya  bertanding sepakbola ke sana.\u201cJadi gimana mendekatkan antar anak-anaknya  dulu,\u201dcetus Adi.<\/p>\n<p><strong>\u201cPak Adi jangan pergi\u2026\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Mendengar Adi  akan meninggalkan desa Indong, tiba-tiba anak-anak berkumpul di depan  rumahnya. Tak ada satu kalimat utuh yang keluar dari mulut mereka. \u201dSaya  enggak tahu, mereka cuma bilang \u2018Pak Adi\u2026Pak Adi\u2026\u2019 lalu pergi lagi,\u201d  cerita Adi. Beberapa saat setelah kejadian itu, secara tak sengaja Adi  menemukan surat dari anak-anak yang diselipkan di dalam tasnya.\u201dTernyata  isi surat itu (berbunyi) \u2018Pak Adi jangan pergi\u2019. \u2018Pak Adi jangan  lama-lama ya\u2019.\u201d sambung Adi. Dan pagi hari sebelum ia berangkat, masih  ada beberapa anak lain yang datang dengan membawa amplop dan surat  masing-masing. Mereka juga menuliskan pesan seperti: \u2018Pak Adi jangan  pulang\u2019, \u2018Nanti ke sini lagi ya\u2019, dan \u2018Jangan lupa bawa oleh-oleh buat  kita\u2019.<\/p>\n<p>Berkaca pada  pengalamannya di atas, Adi berpendapat bahwa masalah pendidikan yang  mendesak untuk segera ditangani, terutama di daerah pelosok, adalah  ketersediaan guru. Kaum yang bergelar pahlawan tanpa tanda jasa ini  merupakan ujung tombak kemajuan pendidikan di suatu daerah. Lebih jauh  ia juga mengungkapkan bahwa jumlah guru di sana sebenarnya banyak. Hanya  saja sebagian besar terkonsentrasi di kota. Di desa Indong, selain  masalah kuantitas, kualitas guru juga perlu ditingkatkan.\u201dMakanya  menurut saya, penempatan guru (mestinya) yang baik dan mereka itu  benar-benar guru yang berkualitas,\u201d cetus Adi.<\/p>\n<p>Namun,  terlepas dari permasalahan ini, ada satu hal yang tampaknya patut  dicermati. Niat tulus Adi turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa  hingga ke pelosok negeri rasanya mampu menyentuhhati anak-anak SD  Indong. Tak hanya pengalaman di atas sebenarnya Adi terharu. Pernah  ketika ia sakit, ada murid yang menuliskan harapan agar Adi cepat  sembuh. Lebih dari itu, ada juga yang  membawakan ikan, pepaya, atau sayuran dari kebun orang tua mereka. \u201cHal-hal ini membuat saya terkesan dan terharu,\u201d tutur Adi.<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1552\" title=\"130876331827778797\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/130876331827778797-300x250.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"250\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/130876331827778797-300x250.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/130876331827778797.jpg 616w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>(bersambung ke seri 4\/terakhir)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI &#8211; ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya. Artikel terbagi &#8211; bagi menjadi 4 bagian bercerita dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[36,41],"class_list":["post-1546","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-people-2","tag-hme","tag-ppm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1546","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1546"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1546\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1546"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1546"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1546"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}