{"id":1541,"date":"2011-06-24T08:05:26","date_gmt":"2011-06-24T08:05:26","guid":{"rendered":"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/?p=1541"},"modified":"2011-11-10T02:01:14","modified_gmt":"2011-11-10T02:01:14","slug":"kisah-alumni-elektro-menjadi-pengajar-muda-desa-indong-2-%e2%80%9cpenduduk-masih-kurang-peduli-pendidikan%e2%80%9d","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/kisah-alumni-elektro-menjadi-pengajar-muda-desa-indong-2-%e2%80%9cpenduduk-masih-kurang-peduli-pendidikan%e2%80%9d\/","title":{"rendered":"Kisah Alumni Elektro menjadi Pengajar Muda Desa Indong (2) \u201cPenduduk Masih Kurang Peduli Pendidikan\u201d"},"content":{"rendered":"<p><em>Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI &#8211;  ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya. <\/em><em>Artikel terbagi &#8211; bagi menjadi 4 bagian bercerita dari awal  bagaimana bisa menjadi salah satu peserta Indonesia Mengajar sampai  pengalaman yang dilalui bersama anak &#8211; anak di Desa Indong. <\/em><em>Tentunya STEI sangat bangga ada salah satu alumni yang bisa memberikan  pengabdiannya untuk bangsa ini, semoga tulisan ini bisa menjadi  inspirasi bagi siapapun yang membacanya. (sumber : <a href=\"http:\/\/bit.ly\/j8FUAh\" target=\"_blank\">Kompasiana<\/a>)<\/em><\/p>\n<p><em><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-1542\" title=\"1308610272445328863\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308610272445328863-300x188.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"188\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308610272445328863-300x188.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308610272445328863.jpg 609w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>\u201cBetah banget. Tiga bulan pertama saya sudah merasa ini kayak di rumah sendiri aja,\u201d<\/strong><\/em> jawab  Adi saat saya menanyakan bagaimana rasanya tinggal di desa Indong.  Daerah penempatan Para Pengajar Muda (PM) pada umumnya memang berada di <em>remote area<\/em>.  Desa tempat Adi mengajar terletak di Pulau Mandioli, salah satu pulau  paling ujung di wilayah Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Saat  pertama kali berangkat dari Jakarta, Adi menghabiskan waktu perjalanan 4  jam di pesawat, kemudian 8 jam naik kapal dan bermalam didalamnya, serta dilanjutkan dengan naik kapal motor selama 6 jam.<\/p>\n<p>Desa Indong  berlokasi di pesisir pantai. Meskipun demikian, mayoritas penduduk  mencari rezeki dengan berkebun kopra, jagung, dan jenis tumbuhan lain di  hutan sekitar gunung. Menurut pria yang pernah aktif di organisasi  pemuda AIESEC Indonesia itu, desa Indong dihuni oleh sekitar 1300  penduduk dengan 300-an Kepala Keluarga (KK). Terkait sarana pendidikan,  di sana hanya terdapat 2 PAUD, 1 SD, 1 SMP, dan 1 SMK dengan jumlah guru  yang amat terbatas. Adi menuturkan bahwa SD Indong hanya memiliki 6  guru termasuk dirinya. Sedangkan masing-masing 3 orang guru bertugas di  SMP dan SMK. Karena jumlah tenaga pengajar yang minim, \u201ctugas\u201d awal Adi  sebagai PM, yaitu mengajar anak-anak SD, langsung bertambah begitu ia  tiba di lapangan.\u201dBegitu saya datang langsung diminta membantu mengajar  Bahasa Inggris dan komputer karena mereka <em>enggak<\/em> punya (guru). Jadi sekarang saya membantu juga mengajar di SD, SMP, dan SMK,\u201dkata Adi.<\/p>\n<p>Adi  dituntut untuk mampu beradaptasi di tempat tinggalnya saat ini yang  tentu sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Di desa Indong, listrik hanya  menyala selama 4 jam pada malam hari. Itu pun dengan menggunakan genset.  Di salah satu rumah penduduk tempat Adi tinggal juga tidak terdapat  televisi. Agar dapat menikmati siaran dari layar kaca itu, ia mesti  datang ke rumah tetangga, kepala desa, atau menunggu kesempatan <em>plesir <\/em>ke  kota tiba. Siaran televisi kini menjadi barang langka bagi  Adi.\u201cMenonton teve itu bisa dihitung pakai jari lah dalam sebulan,\u201d  tuturnya.<\/p>\n<p>Sinyal  juga bukan sesuatu yang bisa dengan mudah didapat. Jika di Jakarta ia  \u201cdikepung\u201d dengan beragam cara, media, dan sarana komunikasi atau  mencari informasi, maka di desa Indong hal itu tak terjadi. Adi memberi  contoh bahwa di sana ia harus ke lapangan untuk mendapatkan sinyal.  Kawasan di sekitar rumah atau sekolah nyaris tak terjangkau jaringan.  Adi mengungkapkan kesehariannya di sana,\u201dPokoknya dari bangun tidur  sampai tidur lagi itu sudah beda banget deh (dengan di Jakarta).\u201d<\/p>\n<p>Meskipun  tinggal dalam suasana penuh keterbatasan, Adi mengaku jatuh cinta  dengan makanan di desa Indong. Karena lokasinya di pesisir pantai, ikan  hampir menjadi lauk-pauk setiap hari. Seringnya, ikan disajikan bersama  bumbu cabe yang menggugah selera. Ya, jika untuk mendapatkan ikan  masyarakat di sana dapat dikatakan tinggal memancing di dermaga, maka  cabai pun bisa diperoleh hanya dengan memetik di kebun.\u201dJadi setiap hari  pasti ada ikan sama bumbu cabai. Itu enak banget menurut saya,\u201dungkap  Adi.<\/p>\n<p><strong>Keramahan penduduk<\/strong><\/p>\n<p>Selain  itu, keramahan penduduk menjadi hal lain yang membuat Adi betah tinggal  di desa Indong. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, banyak  warga menyambut kedatangannya dan menjamu dengan makanan khas setempat.  Adi juga banyak mendapatkan cerita tentang budaya hidup di desa yang  mayoritas penduduknya menganut agama Islam tersebut. Bahkan ia juga  diceritakan tentang kisah-kisah mistis yang berkembang di sana dan  diundang dalam acara pengajian.<\/p>\n<p>Berada  di wilayah dengan masyarakat yang secara turun-temurun belum memiliki  kesadaran pendidikan tinggi, Adi berupaya melakukan perubahan melalui  contoh tindakan. Budaya \u2018lulus atau tidak bukan masalah, yang penting  bisa baca, tulis, dan berhitung\u2019 masih kuat mengakar. Ia sadar, untuk  mengurai benang kusut ini perlu dilakukan pendekatan yang ekstra kepada  para murid, guru, orang tua, dan dinas pendidikan setempat.<\/p>\n<p>Hal  pertama yang dilakukannya adalah membuat metode pengajaran nan lebih  komunikatif.\u201dKelas saya adalah kelas paling ribut diantara semuanya.  Pasti tiba-tiba ada yang teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, hore-hore,\u201d  cerita Adi. Mendapati \u201cpotensi\u201d itu, ia membuat metode belajar yang  membuat anak menjadi senang. Adi berusaha mengabaikan kebiasaan guru  yang hanya datang, menulis di papan tulis, menyuruh anak mencatat, dan  kemudian \u201cmelepaskan\u201d mereka ribut sendiri. Salah satu yang dilakukannya  adalah dengan mengajari siswa-siswinya memberi salam sambil menari dan  menyanyi. Metode ini ampuh membuat anak-anak kelas lain turut tertarik.  Sejumlah guru pun mulai mencoba melakukan metode serupa. Adi melanjutkan  kisahnya,\u201dKelas saya cuma dibatasi papan, <em>enggak<\/em> ada pintu,  jadi banyak tiba-tiba anak kelas sebelah datang ke kelas saya. \u2018Kok  ribut kenapa nyanyi-nyanyi\u2019.\u201d Selain itu, Adi juga tak terpaku mengajar  hanya di ruang kelas. Ia cukup sering mengajak murid-murid SD Indong  melakukan praktikum langsung di alam bebas.<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-1543\" title=\"1308609117349713735\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308609117349713735-300x232.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"232\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308609117349713735-300x232.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308609117349713735.jpg 616w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Terhadap  orang tua, Adi juga mencoba melakukan pendekatan secara langsung. Ia  pernah datang ke rumah salah satu wali murid. Di sana ia menemukan  kondisi orang tua yang cenderung \u201clonggar\u201d dalam memberikan pengawasan  kepada anak.\u201dSaya lihat mereka itu juga \u2018enggak apa-apa kok, anak saya  gitu. Kalau nakal, pukul saja\u2019. Begitu anaknya sekolah, mereka berpikir  yang penting saya sudah kasih rumah buat mereka, tempat buat tidur. Agak  susah mengubah itu,\u201dungkap Adi.<\/p>\n<p>Tak berhenti pada  murid, guru, orang tua, Adi juga membangun kredibilitas dengan dinas  pendidikan setempat. Melalui inisiatif untuk membuat olimpiade sains dan  juga <em>.<\/em> bagi anak-anak SMK, <em>track record<\/em> positif mulai di dapat. Dalam perubahan yang coba dilakukan, Adi menilai  Dinas Pendidikan setempat mulai melihat bahwa para Pengajar Muda di  Kabupaten Halmahera Selatan benar-benar bekerja. Dari situ, Adi dan  kawan-kawan mulai dipercaya untuk membantu penyelenggaraan rapat  kerja.\u201dKalau mengandalkan pejabat-pejabat di level bawah itu malah  enggak terjadi. Makanya kita coba langsung ke level kabupaten.  Alhamdulillah setelah 6 bulan ini <em>input-input<\/em> kita bisa masuk ke telinga mereka,\u201d pungkas Adi.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/stei\/profil-khusus\/1546\/\">(bersambung)<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI &#8211; ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya. Artikel terbagi &#8211; bagi menjadi 4 bagian bercerita dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[36,41],"class_list":["post-1541","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-people-2","tag-hme","tag-ppm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1541"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1541\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}