{"id":1531,"date":"2011-06-24T07:31:29","date_gmt":"2011-06-24T07:31:29","guid":{"rendered":"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/?p=1531"},"modified":"2011-11-10T02:01:33","modified_gmt":"2011-11-10T02:01:33","slug":"kisah-alumni-elektro-menjadi-pengajar-muda-desa-indong-1-%e2%80%9cjangan-hanya-mengutuk-kegelapan%e2%80%9d","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/kisah-alumni-elektro-menjadi-pengajar-muda-desa-indong-1-%e2%80%9cjangan-hanya-mengutuk-kegelapan%e2%80%9d\/","title":{"rendered":"Kisah Alumni Elektro menjadi Pengajar Muda Desa Indong (1) \u201cJangan Hanya Mengutuk Kegelapan\u201d"},"content":{"rendered":"<p><em>Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI &#8211; ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya. <\/em><em>Artikel terbagi &#8211; bagi menjadi 4 bagian bercerita dari awal  bagaimana bisa menjadi salah satu peserta Indonesia Mengajar sampai  pengalaman yang dilalui bersama anak &#8211; anak di Desa Indong. <\/em><em>Tentunya STEI sangat bangga ada salah satu alumni yang bisa memberikan pengabdiannya untuk bangsa ini, semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. (sumber : <a href=\"http:\/\/bit.ly\/j8FUAh\" target=\"_blank\">Kompasiana<\/a>)<\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-1533\" title=\"13084725102020561282\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/13084725102020561282-300x174.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"174\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/13084725102020561282-300x174.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/13084725102020561282.jpg 692w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><strong>Rahman Adi Pradana<\/strong> memiliki segala persyaratan untuk hidup nyaman.  Adi\u2014biasa ia disapa\u2014tumbuh di kota besar dan mampu meraih dua gelar  sarjana sekaligus dengan masa studi tepat waktu. Pada tahun 2009, ia  lulus dari <strong>Program Studi Teknik Elektro, STEI &#8211; ITB<\/strong> dengan IPK 3,28 dan Fakultas  Ekonomi Unpad dengan IPK 3,66. Adi sedang menapaki jenjang karier pada  sebuah perusahaan multinasional bergengsi di Jakarta sebelum memutuskan  untuk mengikuti seleksi Indonesia Mengajar (IM) pada tahun 2010. Semua  berawal ketika ia menemukan \u201cpanggilan\u201d usai membaca iklan IM di sebuah  surat kabar. Pemuda kelahiran 10 April 1986 itu  lantas  \u201cberbelok\u201d dan memasang tekad untuk menjadi Pengajar Muda (PM). Adi  lolos seleksi. Saat ini, sudah setengah jalan ia menunaikan tugas mulia  menjadi PM di sebuah daerah terpencil, tepatnya di desa Indong,  Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Adi mengaku betah dan  menikmati peran sebagai \u201cPak Guru\u201d bagi anak-anak di sebuah pulau kecil  yang hanya memiliki pasokan listrik selama 4 jam setiap harinya itu.<\/p>\n<p>Tak ada yang salah dengan pekerjaan Adi di bidang <em>marketing<\/em> sebelum ia berhenti dan lalu memutuskan bergabun menjadi Pengajar Muda  (PM). Adi mengatakan,\u201cSebenernya menurut saya pekerjaan saya keren, <em>fun<\/em>. <em>challenging<\/em>.\u201d  Di perusahaan tersebut, berbagai target yang hampir semuanya diukur  dengan angka pun tak jarang juga membuat Adi harus bekerja dengan usaha  120 persen. Ini membuatnya sangat tertantang. Namun, setelah beberapa  waktu, Adi kerap merasa ada yang kurang dari rutinitasnya.\u201cDari situ  saya mulai galau-galau <em>mode on<\/em>, gitu,\u201d lanjut pemuda kelahiran Padang tersebut.<\/p>\n<p>Iklan IM di  harian Kompas kemudian menuntun Adi mencari tahu lebih dalam tentang  seleksi menjadi PM. Dari sebuah milis, ia \u201cmenemukan\u201d <a href=\"http:\/\/www.facebook.com\/note.php?note_id=140171496011382\" target=\"_blank\">surat untuk anak-anak muda Indonesia<\/a> yang ditulis Anies Baswedan.\u201dSaya  merasa Pak Anies kayak <em>ngomong<\/em> langsung. Selama 25 tahun saya hidup, kok kayaknya benar juga, nikmat  benar hidup saya. Bisa kuliah di dua tempat, bisa kerja begini. Pikiran  untuk hidup buat orang lain itu belum ada apa-apanya,\u201d cerita Adi. Surat  Anies Baswedan semakin membuatnya mantap.\u2019Ok, Ini akan saya lakukan\u2019.<\/p>\n<p>Dengan  pekerjaan di sebuah perusahaan bergengsi yang sudah lumayan stabil dan  memiliki prospek cerah, orang tua Adi sempat tak percaya dengan  keputusan anaknya. Namun, niat untuk berbuat sesuatu bagi bangsa membuat  hati orang tua Adi luluh. Mereka akhirnya merestui keinginan sang anak.  Rencana awal, Adi ingin kembali bekerja di bidang <em>marketing<\/em> setelah menunaikan tugas sebagai PM kelak. Namun, 6 bulan mengajar di  sebuah desa di sebuah pulau terpencil ternyata membukakan matanya.\u201dDi  sini saya melihat realita sekolah di Indonesia itu kayak apa dan semakin  membuat saya ingin melakukan sesuatu dengan segera,\u201d ucap Adi.  Anak-anak SD Indong menyalakan mimpinya untuk dapat mendirikan sekolah  suatu saat nanti. Dari situ, harapan Adi meluas. Tak hanya kembali  bekerja di bidang yang pernah digelutinya, ia juga ingin berkontribusi  lebih banyak di bidang pendidikan.<\/p>\n<p><strong>Bekal dari  tim Indonesia Mengajar <\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-1534\" title=\"1308474444248359755\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308474444248359755-300x214.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"214\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308474444248359755-300x214.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308474444248359755-1024x733.jpg 1024w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308474444248359755.jpg 1036w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Sebelum  berangkat ke daerah penempatan, Para Pengajar Muda dibekali dengan  training selama 8 minggu oleh Tim Indonesia Mengajar. Ada dua materi  utama yang diberikan, yaitu pedagogik (kepengajaran anak) dan <em>leadership <\/em>(kepemimpinan).  Materi pedagogik terutama diberikan agar para PM nantinya bisa mengajar  dengan cara-cara yang lebih memotivasi anak didik dan tidak terbatas  pada aktivitas menulis di papan tulis, mencatat, dan kemudian memberikan  latihan saja. Selain itu, para PM juga dibekali dengan arahan bagaimana  cara berbaur dan berinteraksi dengan orang-orang di daerah penempatan.<\/p>\n<p>Di lapangan,  Adi memang menemukan budaya yang sangat berbeda dari tempatnya tumbuh  besar.\u201cKalau di Jawa itu katanya lemah lembut. Anak-anak Maluku <em>enggak<\/em> bisa dilembutin Pak, harus pukul,\u201d kata Adi menirukan kalimat seorang  penduduk setempat. Lebih jauh, yang juga dirasakan Adi adalah bahwa  orang tua di sana cenderung lebih  <em>strict<\/em> kepada  anak-anaknya. Ia punya pengalaman menarik. Ketika pertama kali datang ke  sekolah, sebuah rotan sudah ada di meja kelasnya. Rupanya di sana,  memberikan hukuman kepada anak-anak nakal dengan rotan dianggap sudah  biasa. Bahkan jika anak-anaknya nakal, justru mereka sendiri yang  mengatakan \u2018Pak pukul saya dengan rotan\u2019. \u201cDan makanya, sejak pertama  itu rotan saya buang keluar jendela. Mereka malah bingung,\u201d ungkap Adi.  Perlahan-lahan Adi mencoba melakukan perubahan. Ia mengajak anak-anak  belajar dengan memberikan perhatian yang lebih. Metode belajar juga  dibuat lebih menyenangkan.\u201cBuat <em>games <\/em>banyak, cerdas cermat,  pelajaran di luar kelas, nyanyi-nyanyi, nari-nari. Itu sih yang buat  akhirnya yang membuat mereka bisa masuk pelajarannya,\u201d lanjut Adi.<\/p>\n<p>Sebelum berangkat  ke daerah penempatan, Para Pengajar Muda dibekali dengan training selama  8 minggu oleh Tim Indonesia Mengajar. Ada dua materi utama yang  diberikan, yaitu pedagogik (kepengajaran anak) dan <em>leadership <\/em>(kepemimpinan).  Materi pedagogik terutama diberikan agar para PM nantinya bisa mengajar  dengan cara-cara yang lebih memotivasi anak didik dan tidak terbatas  pada aktivitas menulis di papan tulis, mencatat, dan kemudian memberikan  latihan saja. Selain itu, para PM juga dibekali dengan arahan bagaimana  cara berbaur dan berinteraksi dengan orang-orang di daerah penempatan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-1535\" title=\"1308454706807518742\" src=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/stei\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308454706807518742-300x250.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"250\" srcset=\"https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308454706807518742-300x250.jpg 300w, https:\/\/stei.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2011\/06\/1308454706807518742.jpg 616w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Pertama kali tiba di <em>training center<\/em>,  Para PM diberikan paparan mengenai keterpurukan kondisi pendidikan di  Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dibandingkan pula dengan  negara-negara lain. Bahwa kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak-anak  Indonesia masih jauh dibandingkan negara lain serta minimnya guru itu  paling tidak disaksikan Adi secara langsung di desa Indong. Ia  menuturkan,\u201dKalau di daerah terpencil, dari 10 sekolah, 6 itu bisa <em>enggak<\/em> ada guru. Ada di tempat teman saya (sesama PM),  satu sekolah cuma ada 2 guru, ada yang 1 guru, ada yang 12 guru, tapi <em>enggak<\/em> ada yang datang malah.\u201d<\/p>\n<p>Ia juga menemukan fakta bahwa di tempatnya  mengajar, ada anak yang sudah kelas 5 dan 6 SD, tapi masih belum bisa  membaca. Ada pula yang sudah duduk di bangku SMK, namun masih kesulitan  dalam menghasilkan tulisan tangan yang bisa terbaca dengan mudah. Mengajar  di pelosok Maluku tak jarang membuat hati Adi bergetar. Kadang-kadang  ia melihat ruang kelas di tempatnya mengajar tak jauh berbeda dengan  sekolah dalam film Laskar Pelangi. \u201cBangunan sekolah tempat saya  mengajar sudah hancur banget. Kalau hujan, pasti banjir, jadi kita harus  mengungsi. Terus kalau libur, di dalam ruang kelas pasti sudah ada  kambing,\u201d cetus Adi.<\/p>\n<p>Namun, dalam berbagai keterbatasan itu, Adi tak ingin menyerah. Dua pesan yang paling diingatnya selama mengikuti <em>training <\/em>menjadi  sumbu semangat. Meskipun kondisi pendidikan kita masih terpuruk,  berpikir bagaimana mencoba turut serta mengatasinya jauh lebih baik  daripada mengeluh  tak berkesudahan. Adi menuturkan,\u201dJadi  jangan hanya mengutuk kegelapan, tapi bagaimana caranya kita bisa  membuat cahaya di kegelapan itu. Bisa menyalakan lilin. Itu yang Pak  Anies bilang.\u201d Pesan kedua yang tak pernah ia lupakan berasal dari salah  satu pelopor Wanadri (Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung), Iwan Abdurrachman.\u201dAbah Iwan sempat  <em>sharing<\/em> ke kita. Dia bilang jangan jadikan tugas ini sebagai pengorbanan,  tetapi kehormatan. (Bahwa) kita di sini melakukan sesuatu yang berdaya  guna buat orang lain,\u201d pungkas Adi.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/stei\/profil-khusus\/1541\/\">(bersambung)<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI &#8211; ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya. Artikel terbagi &#8211; bagi menjadi 4 bagian bercerita dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[36,41],"class_list":["post-1531","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-people-2","tag-hme","tag-ppm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1531"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1531\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stei.itb.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}