Tragedi Ajisaka

Alkisah, seorang raja Jawa, bernama Ajisaka, bermaksud untuk melakukan suatu perjalanan jauh. Untuk itu, Ajisaka menitipkan senjata pusaka kepada orang kepercayaannya, yang bernama Sembodo, dengan pesan, supaya tidak menyerahkan pusaka tersebut kecuali kepada Ajisaka sendiri.

Beberapa waktu berlalu, Ajisaka kembali dari perjalanan, dan bermaksud untuk mengambil pusaka yang dititipkan ke Sembodo. Untuk itu, ia mengutus Dora untuk mengambil pusaka.

Dora pun menemui Sembodo dan bermaksud mengambil pusaka atas perintah raja. Namun Sembodo tidak percaya pada Dora, dan tetap bersikukuh pada amanat sang raja untuk tidak memberikan pusaka kepada siapapun kecuali kepada dirinya sendiri. Akhirnya keduanya pun bertengkar, bertikai, saling bunuh, dan gugur bersama.

Raja Ajisaka yang menunggu sekian lama merasa cemas dan khawatir, karena Dora tidak segera kembali memberikan pusaka. Maka ia pun menyusul ke tempat Sembodo dan kemudian mendapati bahwa keduanya telah sama-sama meninggal, demi meempertahankan amanat dan kepercayaan yang telah ia berikan sebelumnya.

Karena sedihnya, Ajisaka kemudian menggubah bait-bait puisi, yqng kemudian menjadi dasar dari abjad Jawa. Hana caraka, ada utusan. Data sawala, saling bertengkar. Pada jayanya, sama kuatnya. Maga bathanga, gugur bersama.

Inilah susunan abjad Jawa yang dikenali dan dipelajari sampai sekarang. Suatu kisah tragis dan ironis tentang kesetiaan para utusan yang berakhir dengan kesedihan.

Dari kisah ini kita bisa belajar, bahwasanya, dua orang atau dua pihak yang sama-sama merasa memegang amanah dan kebenaran, bisa kemudian saling bertikai dan saling bertengkar. Tidak ada kesalahan di antara keduanya. Mungkin pihak yang bisa dinyatakan bersalah, justru sang raja yang tidak menyadari bahwa perintahnya saling berlawanan dan menyebabkan utusannya kemudian saling bertikai.

Bagaimana implikasi dan antisipasi di masa kini? Mungkin orang zaman sekarang mengira bahwa urusan koordinasi dan komunikasi bisa dengan mudah diselesaikan dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Namun, bahkan dengan maraknya teknologi informasi dan komunikasi seperti internet dan media sosial, kitapun sering kebingungan sendiri memilah informasi mana yang benar. Niat baik saja ternyata tidak cukup untuk memahami informasi yang benar, apalagi kalau kita mendapatkan informasi yang salah dan menyesatkan.

Butuh kejernihan untuk memahami cerita secara utuh, namun kadang waktu dan keadaan begitu mendesak sehingga pada akhirnya kita mengambil kesimpulan dan keputusan yang salah atau tidak menyeluruh.

Ternyata, setelah sekian lama kehidupan manusia, masalah yang dihadapi masih tidak banyak berubah. Informasi dan disinformasi, pemahaman dan penafsiran terhadap perintah, hermeneutika, masih menjadi permasalahan yang krusial dalam dinamika kehidupan manusia. Padahal itu masih dalam konteks yang netral. Pada saat emosi dan intensi bermain, kompleksitas pemahaman menjadi meningkat, dan yang timbul adalah konflik antar budaya atau clash of civilization.

Memang manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbeda-beda ras, agama, dan budaya itu seharusnya untuk saling mengenal. Namun sering kali identitas malah digunakan untuk memperkuat sengketa dan perbedaan, merasa diri yang paling benar.

Mungkin kita bisa belajar dari kebijakan Ajisaka, yang kemudian menyadari kekhilafannya. Yang terpenting dalam upaya untuk menyatukan perbedaan dan menjalin komunikasi adalah bahasa dan tulisan. Maka abjad Jawa yang diciptakan Ajisaka, diharapkan mampu untuk menjembatani perbedaan. Perintah yang tertulis bisa lebih jelas daripada sekadar lisan, dan pemahaman bisa lebih diperbaiki untuk menghindarkan dari pertikaian dan sengketa di kemudian hari. Itu saja dulu, karena akan selalu ada pihak-pihak yang justru mengail di air keruh dengan memunculkan penyalahpahaman, terutama yang disengaja.