Tim ITB-Unpad Ciptakan Alat Simulasi Hippotherapy bagi Anak Cerebral Palsy

 376 total views,  14 views today

Mengamati pertumbuhan anak sejak lahir penting dilakukan para orangtua. Hal ini wajib dilakukan agar bisa langsung mendeteksi jika anak mengalami gangguan kesehatan atau gangguan tumbuh kembang. Salah satu penyakit yang bisa terlihat pada anak sejak kecil yakni cerebral palsy. Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh.

Penyakit ini disebabkan oleh gangguan perkembangan otak, biasanya terjadi saat anak masih di dalam kandungan. Anak yang menderita cerebral palsy perlu rutin melakukan terapi. Salah satu jenis terapi yang bisa digunakan adalah dengan menunggang kuda.

Untuk membantu anak-anak penderita cerebral palsy melakukan terapi, tim dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat inovasi berupa alat simulasi hippotherapy.

Terapi menunggang kuda bagi penderita cerebral palsy

Menurut salah satu tim dosen ITB Wildan Trusaji (Fakultas Teknologi Industri), di luar negeri terapi menunggang kuda bagi anak penderita cerebral palsy sudah menjadi terapi umum dan banyak dilakukan. Namun di Indonesia terapi model ini masih jarang dilakukan. Sehingga tim dosen ITB bekerjasa sama dengan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad)/RSHS membuat simulator menunggang kuda bagi penderita cerebral palsy.

Latihan simulasi berkuda berfungsi sebagai modalitas yang dapat digunakan dalam program latihan berkuda dengan meniru gerakan berkuda secara langsung,” kata Wildan Triaji kepada Kompas.com, Senin (8/11/2021).

Selain Wildan, tim yang terlibat dalam pengembangan alat simulasi hippotherapy ini antara lain Ardianto Satriawan (KK Teknik Komputer), Muhammad Ogin Hasanuddin (KK Teknik Komputer) dan Syaiful Hammam dari ITB.

Selain para dosen ITB, ada juga mahasiswa ITB yang dilibatkan yakni Alfa Tazlia dan David Azaria Rauf.

Sedangkan tim dari Departemen/KSM Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK Unpad/RSHS yakni Ellyana Sungkar, Septia Susanti Rahadini dan Mayang Cendekia.
Manfaat terapi menunggang kudaWildan menjelaskan, latihan berkuda bagi anak penderita celebral palsy punya manfaat yakni bisa meningkatkan koordinasi, kemampuan motorik kasar, meningkatkan keseimbangan statis dan dinamis.

Menurut Wildan, latihan ini digunakan sebagai intervensi untuk membantu perbaikan motorik pada pasien dengan gangguan sistem saraf pusat seperti pada penderita celebral palsy, stroke, cedela medulla spinalis maupun sindroma down.

Saat anak penderita celebral palsy naik alat simulator ini, bagian bawah kuda seperti anak sedang berjalan. “Sehingga saat naik simulator ini, merangsang otak bahwa si pasien bisa seperti berjalan normal. Terapi ini juga bisa melatih otot,” ungkap Wildan.

Terapi menunggang kuda bagi penderita celebral palsy dianjurkan karena saat anak naik kuda, gerakan kaki kuda bagian belakang paling mirip saat manusia berjalan.

Dapat hibah LPIK ITB

Dengan terapi menunggang kuda, harapannya bisa mensimulasikan gerakan pinggul, kaki kiri dan kanan serta tulang belakang mirip dengan anak normal saat berjalan. Sedangkan terapi menunggang kuda langsung perawatannya mahal, merawat kuda juga susah. Sehingga tim ITB dan Unpad mempunyai ide membuat alat simulasi hippotherapy ini.

Inovasi yang dilakukan kolaborasi peneliti ITB dan Unpad ini berhasil mendapat hibah Penguatan Inovasi Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB 2021.

Tak hanya membuat alat simulasi berkuda, pada alat simulator ini juga ada fitur lain agar sesi terapi tidak membosankan. Para peneliti menambahkan layar dome agar pasien yang melakukan terapi seolah-olah bisa menunggang kuda sembar melihat pemandangan di alam bebas.

Terapi sekaligus bermain game

Ardianto Satriawan, dosen dari KK Teknik Komputer STEI ITB menambahkan, melalui alat ini, dia dan tim ingin menggabungkan terapi fisik dan virtual.

Dia menjelaskan, kerangka kuda pada alat simulator dilengkapi motor hidrolik dibuat seolah-olah sebagai 4 kaki kuda. Saat menaiki alat simulator ini, anak akan diberi rompi yang bisa mengetahui gerakan anak seperti ke kiri, ke kanan, ke depan dan ke belakang.

Menurutnya, layar pada dome ini pengembangannya cukup luas. Sedangkan kudanya sendiri rencana akan diperbaiki lagi prototipenya untuk komersialisasi karena ke depan akan ditawarkan di rumah sakit atau klinik atau pribadi.

Selain itu layar pada dome ini penggunaannya bisa lebih luas. Dibuat dengan bentuk cekung agar menampilkan seolah-olah itu nyata berada di luar ruangan. Sehingga layar dome ini bisa untuk simulasi out door seperti naik sepeda, simulasi masinis kereta api atau simulasi mengemudi.

“Layar dome ini digunakan agar anak tidak bosan saat menjalankan sesi terapi. Sehingga ditambahkan aspek visual di alam terbuka juga game yang bisa dimainkan anak. Permainan dalam layar ini berupa sirkus apel. Anak mengambil apel yang jatuh dengan cara memiringkan badan agar simulator kuda bergerak sesuai tempat apel jatuh,” tandasnya.

Meski belum diujicobakan langsung kepada anak penderita celebral palsy, dosis latihan berkuda maupun latihan simulasi berkuda bervariasi dalam masing-masing penelitian. Berdasarkan penelitian Elshafey dan kawan-kawan tahun 2014, sesi intervensi latihan simulasi berkuda dilakukan selama 3 sesi 30 menit selama 3 bulan.

Sebelum digunakan, alat ini akan menjalani uji keamanan dan standarisasi oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebelum diaplikasikan untuk pertama kalinya kepada anak celebral palsy.

“Kami harap pandemi segera berakhir sehingga alat simulator ini bisa segera diuji cobakan kepada anak penderita celebral palsy,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tim ITB-Unpad Ciptakan Alat Simulasi Hippotherapy bagi Anak Cerebral Palsy”
Penulis : Mahar Prastiwi
Editor : Dian Ihsan