Kuliah Luring Perdana Setelah 1,5 Tahun Pandemi

 1,415 total views,  30 views today

Hari Selasa tanggal 2 November 2021 merupakan hari yang “bersejarah” bagi sebagian mahasiswa Teknik Informatika STEI-ITB angkatan 2020. Karena, pada hari tersebut dilaksanakan kuliah tatap muka pertama kali bagi mereka setelah satu tahun lebih sejak TPB mereka kuliah secara onlen (daring) terus.

Alhamdulillah saat ini kondisi pandemi corona di Indonesia sudah mulai mereda. Jumlah kasus positif dalam dua bulan ini menunjukkan penurunan signifikan, kurang dari 1000 kasus setiap hari. Jumlah kasus yang yang sembuh lebih banyak daripada kasus positif, begitu juga jumlah kematian juga menurun drastis. Vaksinasi semakin gencar dilakukan di mana-mana. Mungkin juga  saat ini sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat sehingga kasus-kasus positif semakin menurun. Wallahualam.

Pemerintah pun mulai melonggarkan aktivitas yang selama ini ditutup atau dibatasi, antara lain aktivitas dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah sudah mulai dibuka secara bertahap, kampus pun menggeliat  dengan membuka kembali aktivitas perkuliahan terbatas seperti praktikum,studio, kuliah lapangan, dan kuliah tatap muka.

Ketika ada edaran kuisioner dari Kaprodi Informatika tentang kesediaan dosen untuk mengajar perkuliahan secara luring (offline) setelah dilaksanakan UTS, saya menyatakan kesediaan untuk mengajar kembali di kampus. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya bersedia mengajar. Pertama, saya ikut merasakan kesedihan angkatan mahasiswa 2020 yang sejak diterima sebagai mahasiswa ITB, mereka belum pernah sekalipun merasakan kuliah tatap muka di kelas-kelas di kampus Ganesha. Jangankan kuliah, menginjakkan kaki di kampus Ganesha pun sebagian besar belum pernah.

Alasan kedua, selama hampir dua tahun kampus ITB kehilangan atmosfir akademik yang menjadi ciri khasnya. Sebelum pandemi, kita dapat melihat betapa suasana akademik di kampus ITB terlihat hidup. Dengan luas kampus yang kecil kita dapat menyaksikan mahasiswa-mahasiswa yang asyik belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di bangku-bangku taman, di kantin-kantin, di meja-meja belajar ruang terbuka, di lantai-lantai gedung, di perpustakaan, di sekre unit dan sekre himpunan. Di dalam lab terlihat mahasiswa mengerjakan praktikum. Di ruang lain berlangsung seminar-seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiahnya. Tidak hanya pagi sampai sore hari, bahkan sampai malam hari pun kampus tetap hidup dengan mahasiswa-mahasiwa yang sepertinya enggan untuk pulang ke kosannya. Kampus ITB memang tempat yang kondusif untuk belajar. Namun semua pemandangan tersebut lenyap begitu saja saat negara api menyerang, eh…saat virus corona menyerang. Pandemi corona memaksa kampus menutup  dirinya, mahasiswa pulang kampung, perkuliahan dan aktivitas lainnya dilakukan secara daring. Dengan memulai kuliah luring ini diharapkan atmosfir akademik yang hilang di kampus bisa hidup kembali

Alasan ketiga lebih pada diri saya sendiri. Saya dosen yang senang mengajar. Dunia pendidikan adalah dunia saya sejak lama. Mengajar secara tatap muka di kelas bagi saya tidak tergantikan dengan kuliah secara daring. Ada kebahagiaan tersendiri selesai mengajar, senang melihat mereka paham, mengerti, dan mendapat pencerahan. Ada dialog dan narasi yang dibangun selama kuliah tatap muka. Kalau kuliah secara daring kita tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang mangut-mangut melihat penurunan rumus, atau celutukan seperti “oooo… begitu caranya” ketika kita menjawab soal yang sulit di papan.

Singkat cerita, saya pun mulai mensurvei mahasiswa pada mata kuliah yang saya ampu, siapa saja yang ingin kuliah secara luring di kampus semester ini. Sebelumnya, Kaprodi Informatika juga sudah mensurvei  mahasiswa IF tentang kuliah luring, ternyata 63 persen mahasiswa IF siap untuk ikut kuliah luring. Dari mahasiswa IF 2020, ada 70 orang yang secara tentatif ingin kuliah luring. Karena kapasitas kelas selama adaptasi kebiasan baru dibatasi jumlahnya, maka jumlahnya dbatasi maksimal 34 orang saja. Jumlah 34 orang tersebut adalah kapasitas untuk ruang 7602, ruang kuliah terbesar di LabTek 5. Peminat kuliah luring tidak hanya dari kelas K1 yang saya ampu, tetapi juga dari kelas paralel lain, K2 dan K3, setelah dikoordinasikan dengan dosen pengampu setiap kelas. Seluruhnya ada sekitar 30-an mahasiswa yang ingin kuliah luring di LabTek 5.

Kuliah luring  yang saya ampu adalah IF2120 Matematika Diskrit (Matdis) dan IF2123 Aljabar Linier dan Geometri (Algeo). Kuliah Matdis hari Selasa sore dan kuliah Algeo hari Rabu siang. Kuliah akan dilaksanakan secara bauran (hybrid), sehingga mahasiswa yang kuliah daring di rumah pun bisa bergabung dengan teman-temannya yang kuliah luring di kampus. Untuk itu digunakan peralatan yang dapat memfasilitasi kedua cara perkuliahan tersebut.

Saya datang ke kampus dua jam sebelum kuliah berlangsung. Saya harus mempelajari dulu cara menggunakan peralatan  yang terdiri dari kamera dan dua monitor besar yang terhubung dengan komputer dan akses internet. Satu jam perlu waktu bagi saya  untuk belajar cara menggunakannya. Saya dibantu oleh pegawai Duktek, Pak Sudiarto, Pak Syamsudin, dan Pak Cece dalam menggunakan peralatan canggih ini. Mereka pun juga sambil belajar menggunakannya karena peralatan kuliah bauran ini memang baru dibeli dan baru dipasang. Menurut info peralatan kuliah bauran ini sangat mahal harganya.

Satu monitor besar dari Huawei di depan kelas digunakan untuk menampilkan slide PPT yang di-share dengan platform Zoom, sedangkan satu monitor besar yang lain digunakan untuk menampilkan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah daring di rumah.  Sebuah kamera yang dapat berputar secara otomatis dipasang di depan untuk menayangkan gambar dosen secara live yang mengajar di depan monitor Huawei. Kemana saya berjalan di ruang kelas, kamera itu berputar ke arah saya sehingga gambar dosen yang wara-wiri di dalam kelas pun dapat dilihat mahasiswa yang daring di rumah.

Jam 16.00 kurang mahasiswa sudah masuk ke dalam ruangan 7602. Mereka sudah mendapat izin masuk kampus, sudah divaksin, sudah mengisi AMARI, memakai masker. Saya kira mereka ini mahasiswa yang berasal dari Bandung Raya semua, ternyata banyak juga yang berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Padang, dan lain-lain.  Rupanya mahasiswa asal luar Bandung ini sudah beberapa bulan kos di Bandung.  Jadi, mereka bukan mendadak ada di Bandung karena ingin ikut kuliah luring.

Jam 16.00 kuliah perdana secara bauran (onlen dan oflen sekaligus) dimulai. Mahasiswa IF 2020, yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah di kampus Ganesha sejak tingkat 1, terlihat sangat gembira bisa kuliah lagi secara luring. Gembira bisa bertemu dengan teman seangkatan.
Ruang besar 7602 ini biasanya saat normal bisa diisi sampai 120 hingga 140 mahasiswa, tetapi pada masa adaptasi kapasitasnya hanya 34 orang saja dengan jarak duduk 1,5 meter.
Kuliah berjalan dengan lancar. Satu monitor besar menampilkan share screen PPT, satu monitor lagi menampilkan mahasiswa yang kuliah onlen dari rumah. Mahasiswa yang berada di rumah bisa melihat dosen berdiri mengajar di kelas dan melihat teman-temannya di dalam kelas. Begitu sebaliknya. Mereka bisa bertanya dari rumah dan suaranya terdengar jelas di dalam kelas. Monitor Huawei ini adalah tipe layar sentuh, jadi slide-slide PPT dapat dengan mudah digeser dengan jari. Saya juga dapat menulis dengan pena digital ke layar monitor tersebut, dan tulisannya dapat dilihat oleh peserta kuliah daring.
Alhamdulillah, STEI-ITB selangkah lebih maju, insya Allah sudah siap melaksanakan perkuliahan secara luring maupun bauran. Mohon doanya agar kuliah lancar sampai akhir semester, sehat, dan aman. Amiiin ya Allah.