Kisah Alumni Elektro menjadi Pengajar Muda Desa Indong (2) “Penduduk Masih Kurang Peduli Pendidikan”

Artikel ini bercerita tentang seorang alumni Teknik Elektro STEI – ITB oleh karena itu judulnya saya tambahkan dari judul artikel aslinya. Artikel terbagi – bagi menjadi 4 bagian bercerita dari awal bagaimana bisa menjadi salah satu peserta Indonesia Mengajar sampai pengalaman yang dilalui bersama anak – anak di Desa Indong. Tentunya STEI sangat bangga ada salah satu alumni yang bisa memberikan pengabdiannya untuk bangsa ini, semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. (sumber : Kompasiana)

“Betah banget. Tiga bulan pertama saya sudah merasa ini kayak di rumah sendiri aja,” jawab Adi saat saya menanyakan bagaimana rasanya tinggal di desa Indong. Daerah penempatan Para Pengajar Muda (PM) pada umumnya memang berada di remote area. Desa tempat Adi mengajar terletak di Pulau Mandioli, salah satu pulau paling ujung di wilayah Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Saat pertama kali berangkat dari Jakarta, Adi menghabiskan waktu perjalanan 4 jam di pesawat, kemudian 8 jam naik kapal dan bermalam didalamnya, serta dilanjutkan dengan naik kapal motor selama 6 jam.

Desa Indong berlokasi di pesisir pantai. Meskipun demikian, mayoritas penduduk mencari rezeki dengan berkebun kopra, jagung, dan jenis tumbuhan lain di hutan sekitar gunung. Menurut pria yang pernah aktif di organisasi pemuda AIESEC Indonesia itu, desa Indong dihuni oleh sekitar 1300 penduduk dengan 300-an Kepala Keluarga (KK). Terkait sarana pendidikan, di sana hanya terdapat 2 PAUD, 1 SD, 1 SMP, dan 1 SMK dengan jumlah guru yang amat terbatas. Adi menuturkan bahwa SD Indong hanya memiliki 6 guru termasuk dirinya. Sedangkan masing-masing 3 orang guru bertugas di SMP dan SMK. Karena jumlah tenaga pengajar yang minim, “tugas” awal Adi sebagai PM, yaitu mengajar anak-anak SD, langsung bertambah begitu ia tiba di lapangan.”Begitu saya datang langsung diminta membantu mengajar Bahasa Inggris dan komputer karena mereka enggak punya (guru). Jadi sekarang saya membantu juga mengajar di SD, SMP, dan SMK,”kata Adi.

Adi dituntut untuk mampu beradaptasi di tempat tinggalnya saat ini yang tentu sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Di desa Indong, listrik hanya menyala selama 4 jam pada malam hari. Itu pun dengan menggunakan genset. Di salah satu rumah penduduk tempat Adi tinggal juga tidak terdapat televisi. Agar dapat menikmati siaran dari layar kaca itu, ia mesti datang ke rumah tetangga, kepala desa, atau menunggu kesempatan plesir ke kota tiba. Siaran televisi kini menjadi barang langka bagi Adi.“Menonton teve itu bisa dihitung pakai jari lah dalam sebulan,” tuturnya.

Sinyal juga bukan sesuatu yang bisa dengan mudah didapat. Jika di Jakarta ia “dikepung” dengan beragam cara, media, dan sarana komunikasi atau mencari informasi, maka di desa Indong hal itu tak terjadi. Adi memberi contoh bahwa di sana ia harus ke lapangan untuk mendapatkan sinyal. Kawasan di sekitar rumah atau sekolah nyaris tak terjangkau jaringan. Adi mengungkapkan kesehariannya di sana,”Pokoknya dari bangun tidur sampai tidur lagi itu sudah beda banget deh (dengan di Jakarta).”

Meskipun tinggal dalam suasana penuh keterbatasan, Adi mengaku jatuh cinta dengan makanan di desa Indong. Karena lokasinya di pesisir pantai, ikan hampir menjadi lauk-pauk setiap hari. Seringnya, ikan disajikan bersama bumbu cabe yang menggugah selera. Ya, jika untuk mendapatkan ikan masyarakat di sana dapat dikatakan tinggal memancing di dermaga, maka cabai pun bisa diperoleh hanya dengan memetik di kebun.”Jadi setiap hari pasti ada ikan sama bumbu cabai. Itu enak banget menurut saya,”ungkap Adi.

Keramahan penduduk

Selain itu, keramahan penduduk menjadi hal lain yang membuat Adi betah tinggal di desa Indong. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, banyak warga menyambut kedatangannya dan menjamu dengan makanan khas setempat. Adi juga banyak mendapatkan cerita tentang budaya hidup di desa yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam tersebut. Bahkan ia juga diceritakan tentang kisah-kisah mistis yang berkembang di sana dan diundang dalam acara pengajian.

Berada di wilayah dengan masyarakat yang secara turun-temurun belum memiliki kesadaran pendidikan tinggi, Adi berupaya melakukan perubahan melalui contoh tindakan. Budaya ‘lulus atau tidak bukan masalah, yang penting bisa baca, tulis, dan berhitung’ masih kuat mengakar. Ia sadar, untuk mengurai benang kusut ini perlu dilakukan pendekatan yang ekstra kepada para murid, guru, orang tua, dan dinas pendidikan setempat.

Hal pertama yang dilakukannya adalah membuat metode pengajaran nan lebih komunikatif.”Kelas saya adalah kelas paling ribut diantara semuanya. Pasti tiba-tiba ada yang teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, hore-hore,” cerita Adi. Mendapati “potensi” itu, ia membuat metode belajar yang membuat anak menjadi senang. Adi berusaha mengabaikan kebiasaan guru yang hanya datang, menulis di papan tulis, menyuruh anak mencatat, dan kemudian “melepaskan” mereka ribut sendiri. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan mengajari siswa-siswinya memberi salam sambil menari dan menyanyi. Metode ini ampuh membuat anak-anak kelas lain turut tertarik. Sejumlah guru pun mulai mencoba melakukan metode serupa. Adi melanjutkan kisahnya,”Kelas saya cuma dibatasi papan, enggak ada pintu, jadi banyak tiba-tiba anak kelas sebelah datang ke kelas saya. ‘Kok ribut kenapa nyanyi-nyanyi’.” Selain itu, Adi juga tak terpaku mengajar hanya di ruang kelas. Ia cukup sering mengajak murid-murid SD Indong melakukan praktikum langsung di alam bebas.

Terhadap orang tua, Adi juga mencoba melakukan pendekatan secara langsung. Ia pernah datang ke rumah salah satu wali murid. Di sana ia menemukan kondisi orang tua yang cenderung “longgar” dalam memberikan pengawasan kepada anak.”Saya lihat mereka itu juga ‘enggak apa-apa kok, anak saya gitu. Kalau nakal, pukul saja’. Begitu anaknya sekolah, mereka berpikir yang penting saya sudah kasih rumah buat mereka, tempat buat tidur. Agak susah mengubah itu,”ungkap Adi.

Tak berhenti pada murid, guru, orang tua, Adi juga membangun kredibilitas dengan dinas pendidikan setempat. Melalui inisiatif untuk membuat olimpiade sains dan juga workshop bagi anak-anak SMK, track record positif mulai di dapat. Dalam perubahan yang coba dilakukan, Adi menilai Dinas Pendidikan setempat mulai melihat bahwa para Pengajar Muda di Kabupaten Halmahera Selatan benar-benar bekerja. Dari situ, Adi dan kawan-kawan mulai dipercaya untuk membantu penyelenggaraan rapat kerja.”Kalau mengandalkan pejabat-pejabat di level bawah itu malah enggak terjadi. Makanya kita coba langsung ke level kabupaten. Alhamdulillah setelah 6 bulan ini input-input kita bisa masuk ke telinga mereka,” pungkas Adi.

(bersambung)

About the author

https://www.makaryo.net/pkv-games/ http://mlbcollegegwalior.org/img/pkv-games/