Enter your keyword

Presiden CIGRE Bahas Tantangan Transisi Energi Global pada Kuliah Umum KK Ketenagalistrikan STEI ITB

Presiden CIGRE Bahas Tantangan Transisi Energi Global pada Kuliah Umum KK Ketenagalistrikan STEI ITB

Presiden CIGRE Bahas Tantangan Transisi Energi Global pada Kuliah Umum KK Ketenagalistrikan STEI ITB

Bandung, stei.itb.ac.id — Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menyelenggarakan kuliah umum dengan menghadirkan Konstantin O. Papailiou, Presiden CIGRE periode 2024 – 2026, pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Kerja Sama PLN, ruang kelas C, dan dihadiri oleh mahasiswa serta dosen.

Prof. Papailiou merupakan pakar di bidang transmisi tenaga listrik sekaligus dosen di University of Stuttgart. Dalam kapasitasnya sebagai Presiden CIGRE, ia memimpin salah satu organisasi internasional paling berpengaruh dalam pengembangan sistem tenaga listrik global, serta secara konsisten menekankan pentingnya peran infrastruktur transmisi dalam mendorong keberhasilan transisi energi.

Kuliah umum ini bertujuan memberikan perspektif global mengenai perkembangan sistem tenaga listrik, sekaligus membuka ruang diskusi terkait tantangan dan peluang dalam transisi energi. Dalam pemaparannya, Prof. Papailiou menegaskan peran strategis CIGRE sebagai wadah kolaborasi lintas negara yang berfokus pada pengembangan keahlian sistem tenaga (power system expertise).

Secara historis, CIGRE telah berperan sejak 1921 dalam mendorong standardisasi dan pengembangan sistem kelistrikan dunia. Fokus organisasi ini berkembang seiring waktu, mulai dari elektrifikasi wilayah, interkoneksi jaringan transmisi, pembentukan pasar listrik, hingga kini memasuki fase krusial transisi energi global.

Mengacu pada data International Energy Agency (IEA) 2022 yang dipaparkan dalam kuliah, sekitar 20 persen populasi dunia masih belum memiliki akses listrik. Di sisi lain, permintaan listrik global diproyeksikan meningkat signifikan hingga 2050, bahkan mencapai 150 persen lebih tinggi dalam skenario Net Zero Emissions. Kondisi ini menuntut ekspansi besar-besaran pada infrastruktur kelistrikan, baik dari sisi pembangkitan maupun jaringan transmisi.

Dalam konteks kebutuhan daya, dunia diperkirakan memerlukan kapasitas listrik sebesar 25.000 hingga 40.000 GW pada tahun 2050 untuk mencapai target emisi nol bersih. Artinya, dibutuhkan tambahan kapasitas hingga puluhan ribu gigawatt, setara dengan pembangunan ribuan pembangkit listrik baru setiap tahunnya. Sumber energi terbarukan seperti angin dan surya diproyeksikan menjadi tulang punggung sistem energi masa depan, meskipun energi nuklir juga tetap memiliki peran.

Selain pembangkitan, penguatan jaringan transmisi menjadi tantangan besar lainnya. Papailiou menjelaskan bahwa sistem transmisi global saat ini memiliki panjang sekitar 8 hingga 10 juta kilometer. Untuk mendukung transisi energi, diperlukan tambahan 1,5 hingga 2,5 juta kilometer jaringan baru, termasuk ratusan ribu kilometer jalur tegangan tinggi (HVDC). Tidak hanya itu, sekitar 40 hingga 60 persen jaringan eksisting juga perlu diperbarui atau direvitalisasi sebelum 2050.

“Transisi energi bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi juga membangun ulang sistem secara menyeluruh,” menjadi salah satu pesan kunci yang disampaikan dalam kuliah tersebut.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya STEI ITB dalam memperkuat wawasan global mahasiswa dan mendorong keterlibatan aktif dalam isu strategis sektor ketenagalistrikan. Melalui interaksi langsung dengan tokoh internasional, diharapkan sivitas akademika dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif sekaligus terinspirasi untuk berkontribusi dalam pengembangan sistem energi berkelanjutan.

Kuliah umum berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang membahas berbagai isu, mulai dari kesiapan teknologi, tantangan regulasi, hingga peluang kolaborasi riset internasional. STEI ITB berkomitmen untuk terus menghadirkan forum akademik berkualitas sebagai bagian dari kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang energi.