Enter your keyword

Mahasiswa Teknik Telekomunikasi Raih First Prize Huawei ICT Competition 2025–2026 Global Final Lewat Inovasi AI untuk Daerah Terpencil

Mahasiswa Teknik Telekomunikasi Raih First Prize Huawei ICT Competition 2025–2026 Global Final Lewat Inovasi AI untuk Daerah Terpencil

Mahasiswa Teknik Telekomunikasi Raih First Prize Huawei ICT Competition 2025–2026 Global Final Lewat Inovasi AI untuk Daerah Terpencil

Bandung, stei.itb.ac.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di kancah internasional. Tim Hawkeye yang terdiri dari tiga mahasiswa Program Studi Teknik Telekomunikasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, berhasil meraih First Prize pada kategori Innovation Competition dalam ajang bergengsi Huawei ICT Competition 2025–2026 Global Final yang diselenggarakan di Shenzhen, Tiongkok.

Tim Hawkeye beranggotakan Sulthan Miftahul Ulum, Rossi Putri Rusliadi, dan Kimi Rafif Asyadda, di bawah bimbingan Latif Sungkar. Mereka berhasil mengungguli berbagai tim dari sejumlah negara melalui inovasi bertajuk DermaLens, sebuah perangkat diagnosis penyakit kulit berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan layanan kesehatan di wilayah terpencil.

DermaLens lahir dari kepedulian tim terhadap kesenjangan akses layanan kesehatan yang masih dialami masyarakat di berbagai daerah terpencil kawasan Asia Pasifik. Berbeda dengan perangkat diagnosis konvensional yang umumnya membutuhkan infrastruktur internet dan biaya tinggi, DermaLens dirancang agar dapat beroperasi sepenuhnya secara offline.

Melalui teknologi AI image classification, perangkat ini mampu mengidentifikasi berbagai penyakit kulit hanya dari citra yang diambil pengguna. Hasil analisis kemudian dapat digunakan sebagai rujukan awal bagi tenaga kesehatan setempat, seperti perawat desa atau petugas puskesmas, dalam memberikan penanganan lebih lanjut.

Inovasi yang kami kembangkan bernama DermaLens, sebuah perangkat diagnosis penyakit kulit berbasis AI yang dirancang khusus untuk menjangkau daerah-daerah terpencil seperti pegunungan, pulau terluar maupun pedalaman hutan. Yang membuatnya berbeda adalah kemampuannya bekerja sepenuhnya tanpa koneksi internet” ujar Sulthan.

Selain aspek teknologi, efisiensi biaya menjadi salah satu keunggulan utama DermaLens. Tim memperkirakan perangkat tersebut dapat diwujudkan dengan biaya sekitar 190 dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan perangkat diagnosis kulit konvensional yang nilainya dapat mencapai puluhan ribu dolar. Pendekatan ini sejalan dengan visi tim untuk menghadirkan teknologi kesehatan yang lebih inklusif dan terjangkau bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas medis modern.

Perjalanan Tim Hawkeye menuju gelar juara dunia tidak berlangsung secara instan. Persiapan dimulai sejak tahap nasional dan terus berlanjut melalui babak regional Asia Pasifik hingga grand final tingkat global.

Pada tahap regional, tim sempat menghadapi situasi yang tidak mudah setelah hanya meraih posisi Third Prize. Hasil tersebut menjadi momen yang cukup berat karena berbeda dengan capaian mereka di tingkat nasional. Namun, alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru menjadi pemicu semangat untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan secara menyeluruh.

Tim terus mengembangkan DermaLens, memperbaiki desain perangkat, menyempurnakan sistem AI hingga menyiapkan materi presentasi dan video kompetisi. Bahkan, proses penyempurnaan masih dilakukan hingga sehari sebelum keberangkatan ke Shenzhen.

Tidak ada momen ketika kami merasa pasti akan menjadi juara. Yang ada justru proses panjang untuk terus memperbaiki apa yang kurang. Keyakinan itu datang dari usaha maksimal, doa, dan kepasrahan terhadap hasil terbaik” ungkap Sulthan.

Di balik pencapaian tersebut, tim juga harus menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi teknis maupun personal. Dalam proses pengembangan produk, berbagai kendala teknis dan troubleshooting menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan mereka.

Pada saat yang sama, seluruh anggota tim merupakan mahasiswa tingkat akhir yang tengah menyelesaikan skripsi, menjalani perkuliahan, serta aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Kondisi tersebut menuntut kemampuan manajemen waktu dan koordinasi yang tinggi.

Menurut Sulthan, kekuatan utama tim terletak pada kolaborasi dan kemampuan untuk saling mendukung dalam menghadapi berbagai tekanan. Peran pembimbing juga menjadi faktor penting dalam menjaga arah pengembangan inovasi dan strategi kompetisi.

Ketika semangat sempat turun setelah hasil regional, kami memilih untuk tidak berhenti. Kami menjadikan pengalaman itu sebagai bahan bakar untuk tampil lebih baik di tingkat global” ujarnya.

Bagi Tim Hawkeye, partisipasi dalam Huawei ICT Competition tidak sekadar tentang memenangkan kompetisi. Ajang tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan bidang yang mereka pelajari, khususnya teknologi informasi, komunikasi, dan kecerdasan buatan.

Lebih dari itu, mereka ingin membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu menghasilkan inovasi yang relevan, aplikatif, dan mampu bersaing di tingkat internasional. Kemenangan di Shenzhen menjadi bukti bahwa gagasan yang lahir dari kampus Indonesia dapat memperoleh pengakuan di panggung global.

Motivasi tersebut semakin menguat setelah mereka melewati berbagai tantangan selama kompetisi. Hasil regional yang sempat mengecewakan justru menjadi titik balik yang mendorong tim untuk bekerja lebih keras hingga akhirnya berhasil meraih penghargaan tertinggi.

Saat ini DermaLens masih berada pada tahap prototipe dan belum memiliki mitra industri maupun sponsor untuk pengembangan lebih lanjut. Namun, kemenangan di tingkat global menjadi validasi penting terhadap potensi teknologi yang dikembangkan tim.

Ke depan, peluang kolaborasi dengan berbagai pihak terbuka lebar untuk membawa DermaLens menuju tahap implementasi yang lebih luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Secara pribadi, pengalaman meraih First Prize juga memberikan perspektif baru bagi para anggota tim mengenai potensi yang dapat dicapai melalui kerja keras, kolaborasi, dan inovasi. Bagi Sulthan, pencapaian tersebut semakin memperkuat ketertarikannya pada bidang kecerdasan buatan dan teknologi yang berdampak sosial.

Prestasi ini membuat saya semakin yakin untuk terus berkarya di bidang AI dan teknologi. Saya berharap inovasi yang dikembangkan tidak hanya berhenti sebagai proyek kompetisi, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya mereka yang selama ini belum banyak tersentuh oleh perkembangan teknologi” tuturnya.

Keberhasilan Tim Hawkeye menjadi bukti bahwa semangat inovasi, ketekunan, dan kolaborasi dapat membawa mahasiswa Indonesia bersaing dan berprestasi di tingkat dunia. Prestasi ini sekaligus memperkuat posisi STEI ITB sebagai salah satu pusat pengembangan talenta teknologi yang mampu melahirkan solusi inovatif bagi berbagai tantangan global.